Archive for November, 2010


JUARA 1 PMC

DOWNLOAD FILENYA DI : http://www.4shared.com/file/6GphZNO2/JUARA_1_PMC_AYU_dkk_FK_UNJANI.html

JUARA 1

Ayu Pratiwi dkk dari FK UNJANI

Berikut adalah hasil karyanya :

EFEKTIFITAS  FOGGING

MALATHION, PYRETHRIN DAN PYRETHROID

TERHADAP VEKTOR UTAMA DEMAM BERDARAH  DENGUE

AEDES AEGYPTI DI CIMAHI

“Proposal Penelitian Multi Center”



Disusun oleh :

Ayu Pratiwi (4111071079)

Eka Puji Lestari (4111071036)

Ana Mariana (4111091075)

Putri Ayu Widyastuti Raharjo (4111091145)

“BadanAnalisisdanPengembanganIlmiahNasional – IkatanSenatMahasiswa Kedokteran Indonesia (BAPIN-ISMKI)”

2010-2011

LEMBAR PENGESAHAN

Judul proposal :           EFEKTIFITAS  FOGGING  MALATHION,

PYRETHRIN DAN PYRETHROID TERHADAP VEKTOR UTAMA DEMAM BERDARAH  DENGUE AEDES AEGYPTI DI CIMAHI

Nama penulis  :           Ayu Pratiwi                                         (4111071079)

Eka Puji Lestari                                   (4111071036)

Ana Mariana                                       (4111091075)

Putri Ayu Widyastuti Raharjo                        (4111091145)

Institusi           :           Fakultas Kedokteran

Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI)   Cimahi

Cimahi,        Juni 2010

Mengetahui,                                                   Menyetujui,

Pembantu Dekan I                                        Dosen Pembimbing

Rini S. Harjono, dr., SpPK.,M.Kes Lutfhi Nurlaela Fuadi, dr., M.Kes

NID. 412128365                                             NID. 412150272

PERNYATAAN ORISINALITAS

Dengan ini kami menyatakan bahwa penelitian yang akan kami teliti belum pernah dilakukan penelitian oleh orang lain sebelumnya. Dan kami baru yang pertama kali menelitinya, jika ada kesalahan kami mohon maaf dan kami menerima untuk saran dan kritik.

Cimahi,     Juni 2010.

Penulis

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulilah segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini.

Proposal ini dibuat untuk mengikuti salah satu lomba Penelitian Multi Center. Proposal ini berjudul “ Efektifitas Kandungan Fogging Berupa Malathion, Pyrethrin, Pyrethroid Terhadap Kematian Nyamuk  Aedes aegypti”

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyusun proposal ini masih jauh dari kesempurnaan, mengingat keterbatasan, kemampuan dan pengetahuan penulis. Oleh karena itu kritik maupun saran dari berbagai pihak yang bersifat membangun merupakan sesuatu yang kami harapkan.

Selama penyelesaian proposal ini, penulis banyak sekali mengadakan bimbingan, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, pada kesempatan ini pekenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Dekan Fakultas Kedokteran UNJANI, H. Moch. Harris Suhamihardja, dr, MPH.
  2. Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran UNJANI, Rini Sundari, dr, SpPK. MKes.
  3. Pembantu Dekan II Fakultas Kedokteran UNJANI, Eddy Hardjadi, dr, SpPD.
  4. Pembantu Dekan III Fakultas Kedokteran UNJANI, Iis Inayati Rakhmat, dr, MKes.
  5. Dosen Pembimbing I, Proposal Penelitian Multi Center, Luthfi Nurlaela, dr., M.Kes
  6. Dosen Pembimbing II, Proposal Penelitian Multi Center, Emma Mardiyah, dr., M.Kes
  7. Ketua Lembaga Penelitian Fakultas Kedokteran UNJANI
  8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Akhirulkalam, penulis mengucapkan terimakasih yang tiada terhingga kepada semua pihak yang telah mendoakam, membantu dan memberikan dorongan sehingga proposal ini dapat terselesaikan dengan baik.

Cimahi,      Juni 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Judul ……………………………………………………………………….. i
Lembar pengesahan ………………………………………………………… ii
Pernyataan orisinalitas ……………………………………………………. iii
Kata pengantar ……………………………………………………………. Iv
Daftar isi ………………………………………………………………….. 

Daftar Tabel ……………………………………………………………………………………

Daftar Gambar ………………………………………………………………………………..

vi 

ix

x

I. Pendahuluan ……………………………………………………………. 1
1.1. Latar Belakang ……………………………………………………….. 1
1.2. Rumusan Masalah ……………………………………………………. 2
1.3. Tujuan Penelitian …………………………………………………….. 2
1.4. Manfaat Penelitian …………………………………………………… 2
I.5. Orisinalitas ………………………………………………………..….. 3
II. Tinjauan Pustaka …………………………………………………..…… 4
2.1. Demam Berdarah …………………….………………………………. 4
2.1.1. Definisi…….…………………………………………………………. 4
2.1.2. Epidemiologi ………………………………………………………. 5
2.1.3. Penyebab ……………………………………………….…………… 6
2.1.4. Gejala ……………………………………………….……………… 7
2.1.5. Penularan …………………………………………………………… 8
2.1.6. Pencegahan ………………………………………………………… 8
2.1.7. Pengobatan ………………………………………………………….. 9
2.1.8. Kebijakan Pemerintah ……………………………………………… 10
2.2. Karakteristik Nyamuk Aedes aegypti…………………………………………… 11
2.2.1. Taksonomi dan Morfologi …………………………………………. 11
2.2.2. Morfologi Aedes aegypti…………………………………………… 11
2.2.3. Siklus Hidup …………………………………………………….…. 12
2.2.4. Lingkungan Hidup …………………………………………………. 13
2.3. Fogging ………………………………………………………………. 15
2.3.1. Thermal Fogging …………………………………………………… 17
2.3.2. ULV (Ultra Low Volume) …………………………………………. 19
2.3.3. Malathion …………………………………………………………… 19
2.3.4. Pyrethrins …………………….…………………………………….. 20
2.4 KerangkaTeori ………………………………………………………… 21
2.5  Kerangka Konsep …………………………………………………….. 21
III. Metode Penelitian ……………………………………………………… 22
3.1. Ruang Lingkup Penelitian …………………………………………… 22
3.2. Rancangan (desain) Penelitian ………………………………………… 22
3.3. Identifikasi Variabel ………………………………………………….. 22
3.4. Definisi Operasional Variabel ……………………………………….. 22
3.5. Subjek Penelitian …………………………………………………….. 23
3.6. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ………………………………………… 23
3.7. Sampel ……………………………………………………………….. 23
3.8. Instrumen Penelitian …………………………………………………. 23
3.9. Cara Pengumpulan Data …..…………………………………………. 24
3.10. Anggaran Biaya Penelitian …………………………………………. 25
3.11. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ……………………………………… 26
Daftar Pustaka …………………………………………………………….. 27

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Formulasi Thermal Fogging ..………………………………………. 18

Tabel 3.1 Formulasi Thermal Fogging …..………………………………….… 24

Tabel 3.2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ………………………………………. 26

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1  Siklus Hidup Nyamuk ……………………………………………..  15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (Dengue Haemorrhagic Fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi  klinis demam nyeri otot dan/atau  nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trobositopenia dan diatesis hemoragik.1

Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain.5 Saat ini belum ditemukan antivirus dan vaksin DBD sehingga cara yang paling efektif untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat DBD adalah mengendalikan populasi vektornya yaitu nyamuk Aedes aegypti (Ae. aegypti).

Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia tenggara, Pasifik barat, dan Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 15per 100.000 penduduk (1985 hingga 1995); dan pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998 sedangkan mortalitas DBD cenderung menurun hingga mencapai 2% pada tahun 1999.1 Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan  sampai tanggal 5 Maret 2004 jumlah kasus DBD sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang. 5

Tingginya insidensi DBD di Indonesia membuat pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mencegah DBD, diantaranya:5

  1. Melakukan fogging secara massal di daerah yang banyak  terkena DBD
  2. Membagikan bubuk abate gratis pada daerah-daerah yang banyak terkena          DBD
  3. Menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan pemberantasan sarang

nyamuk (PSN), melalui 3M (menutup, menguras, mengubur) dan            merekrut juru pemantau jentik (jumantik)

Penyemprotan insektisida (zat pembunuh serangga) di lingkungan sekitar rumah dengan cara Fogging (pengasapan) merupakan cara yang rutin dilakukan oleh pemerintah setempat (Dinas kesehatan) untuk mengendalikan populasi vektor stadium dewasa.2,3 Efektifitas fogging dapat dipengaruhi oleh beberapa variabel diantaranya alat yang digunakan (thermal fogging, ULV), bahan akif/kandungan fogging (malathion, pyrethrin, dan pyrethroid), keadaan lingkungan berupa suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, serta waktu pelaksanaan fogging.

Pada penelitian eksperimental ini akan dilakukan pengamatan efektifitas kandungan fogging yang sering digunakan, yaitu: malathion, pyrethrin, dan pyrethroid  dalam membunuh nyamuk Ae.egypti.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelakang yang telah diuraikan diatas, identifikasi masalah   dalam penelitian ini adalah:

Pada pengendalian vektor dengan cara fogging, manakah insektisida yang paling  efektif membunuh nyamuk Ae. aegypti, malathion, pyrethroid, atau pyrethrin?

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1. Maksud

Untuk mengukur efektifitas insektisida malathion, pyrethroid, atau pyrethrin yang diaplikasikan dengan cara fogging untuk pengendalian populasi vektor DBD, nyamuk Ae. aegypti.

1.3.2. Tujuan

Untuk mengetahui efektifitas insektisida malathion, pyrethroid, atau pyrethrin pada aplikasi dengan fogging dalam membunuh nyamuk Ae. aegypti.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

  1. Penelitian

Dapat mengetahui kandungan fogging yang paling efektif membunuh nyamuk Ae.aegypti.

  1. Pemerintah

Merekomendasikan kepada pemerintah untuk mengoptimalkan kandungan             fogging yang paling efektif tersebut.

1.5. Orisinalitas

Penelitian ini belum pernah dilakukan  oleh orang lain sebelumnya, dilihat dari waktu, tahapan  dan tempat pelaksanaan yang berbeda.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Demam Berdarah

2.1.1  Definisi

Demam berdarah adalah penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus yang ditransmisikan melalui serangga, dalam hal ini nyamuk Aedes aygepti.4

Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan diatesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukam cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan syok. Virus dengue menular dari satu penderita ke penderita lain disebarkan oleh nyamuk Ae.aegypti. Penyakit ini paling banyak menyerang pada anak-anak.1

Sedangkan pembagian secara garis besar derajat DBD dapat diklasifikasikan menurut WHO 4 derajat sebagai berikut :1,6

Derajat 1 :  Demam dan Uji Torniquet positif.

Derajat 2 :  Demam dan perdarahan spontan, pada umumnya dikulit dan atau                     manifestasi lain seperti mimisan, perdarahan gusi, muntah darah dan        kadang disertai berak darah.

Derajat 3 :  Demam, perdarahan spontan disertai atau tidak disertai hepatomegali                                       dan disertai gejala-gejala kegagalan sirkulasi meliputi tekanan nadi                                       yang lemah, tekanan nadi darah menurun (120 mmHg) atau hipotensi                                             disertai ekstremitas dingin, dan anak gelisah.

Derajat 4 :  Demam, perdarahan spontan disertai atau tidak disertai hepatomegali                                       dan ditemukan gejala renjatan hebat nadi tak teraba dan tekanan darah                               tak terukur.

2.1.2 Epidemiologi

Hampir separuh populasi dunia berisiko untuk terinfeksi dan sekitar 100 juta kasus terjadi setiap tahunnya.Saat ini tidak ada antivirus dan vaksin yang dapat mengobati penyakit demam berdarah dengue.4

Kasus penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila, Filipina pada tahun 1953. Kasus di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian sebanyak 24 orang.

Beberapa tahun kemudian, menurut data dari Departemen Kesehatan,  penyakit ini menyebar ke beberapa provinsi di Indonesia dengan jumlah kasus sebagai berikut:5

  1. Tahun 1996:  jumlah kasus 45.538 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 1.234 orang
  2. Tahun 1998:  jumlah kasus 72.133 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 1.414 orang
  3. Tahun 1999: jumlah kasus 21.134 orang
  4. Tahun 2000: jumlah kasus 33.443 orang
  5. Tahun 2001: jumlah kasus 45.904 orang
  6. Tahun 2002: jumlah kasus 40.377 orang
  7. Tahun 2003: jumlah kasus 50.131 orang
    1. Tahun 2004: sampai tanggal 5 Maret 2004 jumlah kasus sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang.

2.1.3 Penyebab

Demam Dengue disebabkan oleh Dengue virus (DENV), flavivirus yang ditularkan oleh nyamuk Ae.aegypti. DENV merupakan virus ssRNA strand positif dari family Flaviviridae; genus Flavivirus. Terdiri dari empat serotipe DENV, yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4.1,15 Keempat tipe virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue tipe satu dan tiga.5Virus ini termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arbovirus).5Virus ini mempunyai genome sekitar 11000 dasar yang di kode dalam tiga struktural protein, C, prM, E; tujuh nonstruktural protein, NS1, NS2a, NS2b, NS3, NS4a, NS4b, NS5; dan bagian non-coding pendek pada akhir  5′ dan 3′.Protein-protein DENV E dan M bersama-sama berperan dalam maturasi dinding Glycoprotein.15

Protein DENV E, ditemukan di dinding virus, yang penting untuk perlekatan awal virus pada sel inang. Beberapa molekul yang berinteraksi dengan partikel E-virus (ICAM3-grabbing non-integrin, CD209, Rab 5, GRP 78, dan Mannose Receptor)  terbukti merupakan komponen penting dalam perlekatan dan masuknya virus.15

Protein DENV prM (membran), yang berfungsi untuk maturasi dan formasi partikel virus, terdiri dari tujuh antiparallel β-strands yang distabilisasi oleh tiga ikatan disulfida. Glikoprotein melindungi virus DENV matur yang terdiri dari 180 cetakan dari setiap protein E dan protein M. Virion imatur mulai dari protein E dan protein prM  membentuk 90 heretodimer yang memberikan  bentuk eksterior partikel virus berduri. Partikel virus yang  imatur ini berkembang biak kedalam retikulum endoplasmik dan berjalan melalui jalur apparatus golgi. Virion melewati TGN kemudian terpajan oleh pH yang rendah. Lingkungan yang asam menyebabkan perubahan konformasi pada protein E sehingga terpisah dari protein prM  dan membentuk E homodimer. Homodimer ini memberikan gambaran halus pada virion matur. Selama maturasi pr peptid dilepaskan dari peptida M oleh protease inang, furin.15

Protein M beraksi sebagai protein transmembran di bawah dinding protein E virion matur. Peptida pr tetap bergabung dengan protein E sampai partikel virus dilepaskan ke ekstraseluler.15

DENV NS3 adalah serine protease, yang merupakan RNA helicase dan RTPase/NTPase. Protease  ini terdiri dari enam β-strands yang tersusun menjadi dua β-barrels dibentuk oleh 1-180 residu protein. Triad katalitik (His-51, Asp-75 and Ser-135), ditemukan diantara dua β-barrels, dan akifitasnya bergantung pada adanya kofaktor NS2B. Kofaktor ini menyelubungi protease NS3 dan menjadi bagian dari tempat aktif. Sisa dari protein NS3 (180-618), membentuk tiga subdomain helicase DENV. Enam strand paralel dari  β-sheet diselubungi oleh empat α-helices yang terbentuk dari subdomain I dan II, dan subdomain III yang tersusun dari empat α-helices dikelilingi oleh tiga α-helices yang lebih pendek dan dua antiparalel β-strands.15

Protein DENV NS5 adalah 900 residu peptida dengan domain mehylransferase pada ujung N-terminalnya (residu 1-296) dan pada ujung C-terminalnya terdapat RNA-dependent RNA polymerase (residu 320-900). Domain methyltransferase terdiri dari susunan α/β/β dan disampingnya terdapat subdomain terminal N dan C.15

Faktor-faktor potensial yang menyebabkan demam hemoragik bervariasi. Fakor yang paling dicurgai adalah respons imun manusia cross-serotypic dan proses fusi membran. Antibodi yang terbentuk sebagai respons imun terhadap virus justru akan meningkatkan infeksi.15

2.1.4 Gejala

Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan:5

  1. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (380C-400C)
    1. Manifestasi perdarahan, dengan bentuk: uji tourniquet positif purpura perdarahan konjungtiva, epitaksis, melena, dll.
    2. Hepatomegali
      1. Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah
      2. Trombositopeni, pada hari ke 3-7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000/mm3
      3. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai hematokrit
        1. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare, kejang dan sakit kepala.
        2. Perdarahan pada gusi dan hidung
          1. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah

2.1.5  Penularan

Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang.5

Orang yang berisiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan, virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.5

2.1.6  Pencegahan

Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu:2,5

  1. Lingkungan

Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk),  pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat pengembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:

-  Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu

-  Mengganti/ menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali

-  Menutup dengan rapat tempat penampungan air

-  Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya.

  1. Biologis

Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).

  1. Kimiawi

Cara pengendalian ini antara lain dengan:

-  Pengasapan/ fogging, berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu

-  Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain

Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengombinasikan cara-cara di atas, yang disebut 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.2

2.1.7 Pengobatan

Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi suportif. Dengan terapi suportif yang adekuat, angka kematian dapat diturunkan hingga kurang dari 1%. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling  penting dalam penanganan kasus DBD. Asupan cairan pasien harus tetap dijaga, terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan, maka dibutuhkan suplemen cairan melalui intravena untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi secara bermakna.1

2.1.8  Kebijakan Pemerintah

Dalam rangka mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh penyakit demam berdarah, pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa kebijakan, diantaranya adalah:5

  1. Memerintahkan semua rumah sakit baik swasta maupun negeri untuk tidak menolak pasien yang menderita DBD
  2. Meminta direktur/direktur utama rumah sakit untuk memberikan pertolongan secepatnya kepada penderita DBD sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku serta membebaskan seluruh biaya pengobatan dan perawatan penderita yang tidak mampu sesuai program PKPS-BBM/ program kartu sehat. (SK Menkes No.143/menkes/II.2004 tanggal 20 Februari 2004)
  3. Melakukan fogging secara massal di daerah yang banyak terkena DBD
    1. Membagikan bubuk Abate secara gratis pada daerah-daerah yang banyak terkena DBD. Melakukan penggerakan masyarakat untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk, melalui 3M dan merekrut juru pemantau jentik (jumantik).
    2. Penyebaran pamflet lewat udara tentang pentingnya melakukan gerakan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur)
    3. Menurunkan tim bantuan teknis untuk membantu RS di daerah, yang terdiri dari unsur-unsur:

-  Ikatan Dokter Anak Indonesia

-  Persatuan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia

-  Asosiasi Rumah Sakit Daerah

  1. Membantu provinsi yang mengalami KLB dengan dana masing-masing Rp.500 juta, di luar bantuan gratis ke rumah sakit
  2. Mengundang konsultan WHO untuk memberikan pandangan, saran dan bantuan teknis.
  3. i.      Menyediakan call center
    1. j.      Melakukan kajian Sero-Epidemiologis untuk mengetahui penyebaran virus dengue

2.2 Karakteristik Nyamuk Aedes aygepti

2.2.1 Taksonomi dan Morfologi

Ae. aegypti menurut taksonomi dan morfologinya disebutkan bahwa nyamuk Ae. aegypti (Diphtera Culicidae) disebut sebagai bleck white mosquito, karena tubuhnya ditandai dengan garis putih keperakan diatas dasar hitam. Di Indonesia nyamuk ini disebut salah satu dari nyamuk – nyamuk rumah.16

Dalam urutan klasifikasi nyamuk Ae.aegypti seperti dalam klasifikasi hewan adalah sebagai berikut : kingdom : Animalia; Phylum: Arthropoda; Klas: Hexaspoda; Ordo: Diptera; Familia: Culcidae; Genus: Aedes; spesies: Ae. aegypti.16

2.2.2 Morfologi Nyamuk Ae. aegypti

Seperti nyamuk yang telah diterangkan, nyamuk pembawa atau penyebab penyakit demam berdarah adalah Ae.aegypti atau yang disebut nyamuk dengue mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1) badan dan tungkai bergaris-garis hitam putih, juga pada sayapnya, terdapat bintik-bintik atau botol-botol putih; 2) dalam keadaan istirahat pantatnya mendatar, tidak menungging seperti nyamuk anopheles; 3) aktif atau keluar dari sarangnya untuk mencari mangsa atau menggigit manusia pada pagi atau siang hari antara pukul 09.00 samapai 11.00 dan pada sore hari antara pukul 15.00 sampai pukul 17.00; 4) pada saat melancarkan serangannya tidak mengeluarkan suara yang mendengung; 5) suka mendatar atau beristirahat di pakaian yang berwarna teduh, yang sering tergantung di dalam kamar atau di balik pintu kamar; 6) hidup dan berkembang biak di dalam yaitu tempat penampungan air jernih atau tempat penampungan air di sekitar rumah.16

2.2.3 Siklus Hidup

Nyamuk Ae. aegypti termasuk hewan dalam hidupnya mengalami metamorfosis sempurna, yaitu perubahan bentuk pertumbuhan dan perkembangan melalui empat stadium yaitu: telur, larva, pupa, dewasa.16

1. Telur

Selama masa bertelur, seekor nyamuk betina mampu meletakkan 100-400 butir telur. Telur-telur tersebut diletakkan di bagian yang berdekatan dengan permukaan air. Telur menetas menjadi larva (jentik) setelah waktu 1 sampai 2 hari apabila dilakukan di laboratorium, sedangkan telur menetas di alam bebas untuk penetasan telur diperlukan waktu yang kurang lebih sama atau dapat lebih lama bergantung pada keadaan yang mempengaruhi air di wabah / perindukan.16

2. Larva

Larva nyamuk Ae.aegypti tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan bulu-bulu sederhana yang tersusun bilateral simetris. Larva ini dalam pertumbuhan dan perkembangannya mengalami 4 kali pergantian kulit (ecdysis), dan larva yang terbentuk berturut-turut disebut larva instar I, II dan IV. Larva instar I, tubuhnya sangat kecil, warna transparan, panjang 1-2 mm, duri-duri (spinae) pada dada (thorax) belum begitu jelas, dan corong pernapasan (siphon) dalam menghitam. Larva instar II bertambah besar, ukuran 2,5-3,9 mm, duri dada belum jelas, dan corong pernapasan sudah berwarna hitam. Larva instar IV telah lengkap struktur anatominya dan jelas tubuh dapat dibagi menjadi bagian kepala (chepal), dada (thorax), dan perut (abdomen).16

Pada bagian kepala terdapat sepasang mata majemuk, sepasang antena tanpa duri-duri, dan alat-alat mulut tipe pengunyah (chewing). Bagian data tampak paling besar dan terdapat bulu-bulu yang simetris. Perut tersusun atas 8 ruas. Ruas perut ke-8, ada alat untuk bernapas yang disebut corong pernapasan. Corong pernapasan tanpa duri-duri, berwarna hitam, dan ada seberkas bulu-bulu (ruft). Ruas ke-8 juga dilengkapi dengan seberkas bulu-bulu sikat (brush) di bagian ventral dan gigi-gigi sisir (comb) yang berjumlah 15-19 gigi yang tersusun dalam 1 baris. Gigi-gigi sisir dengan lekukan yang  jelas membentuk gerigi. Larva ini tumbuhnya langsing dan bergerak sangat licin, bersifat fototaksis negatif, dan waktu istirahat membentuk sudut hampir tegak lurus dengan bidang permukaan air.16

3. Pupa

Pupa merupakan stadium akhir calon nyamuk demam berdarah yang ada di dalam air. Bentuk tubuh pupa bengkok dan kepalanya besar. Fase pupa membutuhkan waktu 2-5 hari.16

4. Dewasa

Nyamuk Ae. aegypti tubuhnya tersusun dari bagian, yaitu kepala, dada, dan perut. Pada bagian kepala terdapat sepasang mata majemuk dan antena yang berbulu. Alat mulut nyamuk betina tipe penusuk-penghisap (piercing sucking) dan termasuk lebih menyukai manusia (anthropophagus), sedangkan nyamuk jantan bagian mulut lebih lemah sehingga tidak mampu menembus kulit manusia. Selain itu nyamuk dewasa berukuran  lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan dan kaki.16

2.2.4 Lingkungan Hidup

  1. Tempat Perindukan / Perkembangbiakan

Nyamuk Ae. aegypti menyukai tempat-tempat yang berisikan air jernih dan tidak langsung beralaskan tanah. Tempat perindukan atau perkembangbiakan tersebut dibedakan menjadi 3, yaitu:16

  1. Tempat perindukan sementara

Terdiri dari berbagai macam tempat penampungan air, misalnya: kaleng bekas, pecahan  botol, pecahan gelas, talang air, pot bunga, dan tempat-tempat penampungan genangan air bersih.16

  1. Tempat perindukan permanen

Adalah tempat penampungan air untuk keperluan rumah tangga seperti: bak penampungan air bersih (reservoir, bak mandi, gentong-gentong air, dan bak cuci di kamar mandi).16

  1. Tempat perindukan alamiah

Berupa genangan air pada lubang pohon, seperti misalnya terdapat pada celah-celah atau lubang bekas batang atau cabang pohon yang tumbang dan lain-lain.16

2. Perilaku makan

Ae. aegypti sangat antropofilik, walaupun ia juga bisa makan dari hewan berdarah panas lainnya. Sebagai hewan diurnal nyamuk betina memiliki dua periode aktifitas menggigit, pertama di pagi hari selama beberapa jam matahari terbit dan sore hari selama beberapa jam sebelum matahari gelap.16

3. Perilaku istirahat

Ae. aegypti suka istirahat di tempat yang gelap, lembab dan tersembunyi di dalam rumah atau bangunan, termasuk di kamar tidur, kamar mandi, kamar kecil, dan dapur. Nyamuk ini jarang di temukan di luar rumah.16

4. Jarang terbang

Penyebaran nyamuk Ae.aegypti betina dewasa dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk ketersediaan tempat bertelur dan darah, tetapi sepertinya terbatas 100 meter dari lokasi kemunculan. Akan tetapi penelitian baru di Puerto Rico menunjukkan bahwa nyamuk ini dapat menyebar samapai lebih dari 400 meter terutama untuk mencari tempat bertelur.16

5. Lama hidup

Nyamuk Ae. aegypti dewasa memiliki rata-rata lama hidup hanya delapan hari. Selama musim hujan saat bertahan hidup lebih panjang, risiko penyebaran virus makin besar.16

Siklus Hidup Nyamuk

Gambar 2.1

PENGENDALIAN VEKTOR

2.3. Fogging

Fogging merupakan salah satu cara untuk mencegah penularan demam berdarah dengan cara membunuh vektor penyebar virus dengue stadium dewasa. Ketika dilakukan fogging, nyamuk dewasa akan mati bila terkena asap fogging tersebut tetapi  telur, larva atau jentik yang ada di dalam air tidak mati sehingga jika sesuatu ketika dilakukan fogging maka nyamuk dapat jadi akan mati semua (dengan syarat fogging dilakukan dengan benar) tetapi selang 1-10 hari kemudian akan muncul nyamuk Aedes aegypti yang baru hasil dari menetasnya telur dan perkembangan jentik yang tidak mati.2 Pengendalian dengan cara fogging  tidak akan efektif apabila tidak diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) atau  dengan larvisida (membunuh stadium larva).2

Dinas Kesehatan memberlakukan persyaratan khusus untuk wilayah yang akan dilakukan fogging.  Persyaratan tersebut antara lain; sebelum dilakukan fogging masyarakat sekitar harus dilakukan penyuluhan dan Penyelidikan Epidemologi (PE). Penyelidikan epidemiologi adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/ bangunan sekitarnya. Termasuk tempat-tempat umum di dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter. Tindaklanjut hasil PE tersebut bila ditemukan penderita DBD lainya (1 atau lebih) atau ditemukan 3 atau lebih tersangka DBD dan ditemukan jentik (>5%)  dari rumah/ bangunan yang diperiksa, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD, Larvasidasi, Penyuluhan dan pengasapan (Fogging) dengan insektisida di rumah penderita DBD dan rumah/ bangunan sekitar dengan radius 200 meter, 2 siklus dengan interval 1 minggu. Apabila tidak ditemukan jentik maka yang dilakukan hanya PSN DBD, Larvasidasi dan penyuluhan.2

Fog (pengasapan) adalah suatu spray aerosol yang mempunyai distribusi droplet dengan  rata-rata VMD (Volume Median Diameter) dibawah 50 mikron (kebanyakan 5-15 mikron). Fogging merupakan pilihan terakhir sebagai metode kontrol kimiawi karena keterbatasan dalam strategi pelaksanaannya, yaitu:12

  1. Asap yang tetap berada dalam lingkungan setelah fogging tanpa efek residual
  2. Efek primer hanya pada nyamuk dewasa yang kontak dengan asap
  3. Pelaksanaan harus diulang
  4. Biaya mahal
    1. Efek terhadap vektor sangat dipengaruhi oleh faktor iklim/cuaca seperti velositas dan arah angin, kepadatan, temperatur, dan sebagainya
    2. Kecepatan pergerakan  mesin dan orang yang melakukan fogging
    3. Kualitas dari peralatan fogging

Walaupun demikian, fogging berguna untuk situasi tertentu, seperti mengontrol  vektor di daerah dengan kejadian luar biasa.

Syarat esensial untuk dilakukan fogging yang efektif adalah asap dari droplet insektisida tetap berada di udara pada waktu yang sesuai sehingga vektor yang kontak dengan dosis letal insektisida akan terbunuh. Oleh karena itu, waktu pelaksanaan penyemprotan harus disesuaikan dengan pertimbangan perilaku vektor dan kondisi cuaca.12Kondisi cuaca mempunyai pengaruh langsung terhadap efektifitas operasi fogging, terutama pada fogging yang dilakukan di luar ruangan.Kecepatan angin, kepadatan, temperatur dan hujan merupakan kondisi cuaca yang sangat mempengaruhi aplikasi aerosol. Kecepatan angin yang tinggi dan hujan membuat asam semakin cepat menghilang. Temperatur yang tinggi akan membuat pergerakan  udara konvensional  menghambat aerosol untuk melakukan penetrasi pada habitat vektor sedangkan kepadatan yang tinggi menghalangi dispersal dan membuat asap hilang lebih cepat. Kondisi  yang ideal untuk pelaksanaan fogging adalah: siang dan pagi hari ketika kondisi cuaca memungkinkan dan vektor dalam keadaan aktif.12

Tujuan dari fogging adalah untuk membunuh sebagian besar vektor infektif dengan cepat, sehingga rantai penularan segera dapat diputuskan. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk menekan kepadatan vektor selama waktu yang cukup sampai pembawa virus tumbuh sendiri. Alat yang digunakan untuk fogging terdiri dari portable thermal fog machine (Thermal fogging) dan ultra low volume ground sprayer mounted (ULV) .2,3

2.3.1 Thermal fogging

Teknik ini berdasarkan prinsip insektisida divaporisasi kemudian di kondensasikan untuk membentuk droplet kabut/asap halus  yang akan kontak dengan udara lebih dingin ketika keluar dari mesin. Insektisida akan divaporisasi pada suhu yang sangat tinggi dalam mesin. Saat asap keluar dari mesin, maka asap tersebut akan menyebar ke berbagai arah dan bercampur dengan angin.12

Insektisida yang digunakan untuk fogging adalah  malathion,  pyrethrum atau  pyrethroid (sintesis dari pyrethrum)  karena toksisitas relatif yang lebih rendah terhadap mamalia dan dapat didegradasi secara biologis sehingga tidak bertahan lama di lingkungan. Thermal fogging lebih dapat diterima secara psikologis karena asapnya dapat terlihat tetapi thermal fogging lebih mahal dibandingkan dengan spray ULV.8

Keuntungan thermal fogging:12

  1. Formulasi spray mengandung bahan insektisida yang lebih rendah dalam volume diluent (organic solvent/ pelarut organik) yang besar sehingga mengurangi paparan insektisida pada operator
  2. Asapnya dapat dilihat

Kerugian thermal fogging:12

  1. Formulasi mengandung lebih banyak diluent sehingga biayanya lebih mahal
  2. Kabut tebal sehingga mengurangi daya pandang dan menyebabkan traffic hazards
  3. Membakar sejumlah besar diluent yang  tidak ramah lingkungan
  4. Meningkatkan risiko kebakaran karena dibutuhkan temperatur yang sangat tinggi untuk mengoperasikan mesin dan pelarut organik merupakan bahan yang sangat mudah terbakar.

Berikut formulasi thermal fogging :12

Tabel 2.1 Formulasi Thermal Fogging

No Insektisida Formulasi Komersial Persiapan Formulasi Alat yang Digunakan Kegunaan
1. Ekstrak pyrethrum Ekstrak 2,0% 1:19, contoh 1 bagian ekstrak pyrethrum 2% dan 19 bagian  kerosene Flit pump atau alat fogging yang dioperasikan dengan tangan (micro discharge machine) Spray indoor
2. Malathion Technical Malathion 5 bagian Tech. malathion di 95 bagian diesel Thermal fogging Spray outdoor

2.3.2  ULV (Ultra Low Volume)

Sebuah fogger ULV menghasilkan tetesan kabut dengan menggunakan volume tinggi udara pada tekanan rendah. Sistem seperti ini memungkinkan tetesan dari ukuran yang lebih tepat akan dihasilkan. Tidak adanya sejumlah besar tetesan kecil akan sangat membatasi penetrasi kabut ke daerah –daerah tertentu.  Foggers ULV dapat mengeluarkan formulasi dalam bentuk yang lebih terkonsentrasi karena pengencer/solvent kurang diperlukan. Metode fogging ULV dipilih jika memungkinkan, mesin dikalibrasi sehingga dapat memproduksi ukuran droplet yang optimal sesuai dengan bahan aktif yang digunakan .14

Insektisida yang digunakan pada ULV adalah  malathion dan fendona 30 EC (pyrethroid) yang merupakan suatu nama dagang insektisida yang aplikasinya sama dengan malathion.10

2.3.3 Malathion

Malathion adalah insektisida organofosfat, tidak berwarna pada amber liquid, berbau seperti bawang, berat molekul 330,4g/mol, solubilitas (air) 145 mg/l. Malathion  digunakan sebagai insektisida pada agrikultur, taman, area rekreasi publik, dan program kesehatan masyarakat.7

Malathion dapat membunuh serangga karena dikonversi menjadi maloxon dalam tubuh serangga. Maloxon akan menghambat enzim acetylcholinesterase (AChE) pada sistem saraf pusat. Ketika kerja enzim ini dihambat maka akan menimbukan sistem transmisi impuls saraf terhambat sehingga timbul  hipereksitibilatas, kejang kelumpuhan dan kematian. Seluruh jenis insektisida organofosfat mempunyai cara kerja yang sama.7,11

2.3.4 Pyrethrin

Pyrethrin adalah insektisida natural yang dihasilkan oleh tanaman chrysanthemum. Bunga dari tanaman tersebut dipanen secepatnya setelah mekar lalu dikeringkan dan dibuat serbuk atau minyak dari tanaman diekstraksi dengan pelarut.  Pyrethrin yang dihasilkan mengandung debu dan ekstrak dengan bahan aktif  sekitar 30%. Bahan komponen  insektisida inilah yang dikenal sebagai pyrethrin. Dua jenis pyrethrin yang  paling menonjol adalah pyrethrin-I dan pyrethrin II. Pyrethrin mempunyai empat bahan aktif  lain, Cinerin I dan II, Jasmolin I dan II.9,13

Pyrethrin digunakan untuk mengontrol kutu pada manusia, nyamuk, kecoa, dan lalat. Pyrethrin yang merupakan neurotoksin akan masuk kedalam sistem saraf serangga dan beberapa menit kemudian serangga tidak akan dapat bergerak. Tetapi “knockdown dose” bukan berarti dosis membunuh. Pyrethrin natural dapat di detoksifikasi oleh enzim dalam tubuh serangga. Oleh karena itu beberapa hewan dapat sembuh kembali. Maka untuk menghambat kerja enzim tersebut dibutuhkan dosis letal, organofosfat, carbamate, atau zat-zat yang bekerja sinergis lainnya dapat ditambahkan pada pyrethrin.9,13

Derivat semisintetik dari asam chrysanthemumic telah dikembangkan sebagai insektisida yang disebut pyrethroid dan lebih efektif  dibandingkan pyrethrin natural. Salah satu jenis pyrethroid yang umum adalah allethrin.9

2.4 Kerangka Teori

Berdasarkan landasan teori yang kami dapat, kami mendapatkan kerangka teori berupa:

Fogging

Solar

Bensin

Insektisida:

Malathion, pyrethrin, pyethroid

Kematian nyamuk Ae.aegypti

Umur

Fisik

Suhu, kelembaban, kecepatan angin, arah angin

2.5 Kerangka Konsep

Variabel bebas

Kandungan fogging berupa:

Malathion, pyrethrin, pyrethroid

Variabel terikat

Kematian nyamuk Ae.aegypti

Variabel pegganggu*

Suhu, kelembaban, kecepatan angin, arah angin

Keterangan:

* : diukur

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Tempat       : Ruang Keterampilan Medik Fakultas Kedokteran                                                                    UNJANI

Waktu         : 12 Juli 2010

Disiplin ilmu yang terkait   :  Parasitologi

3.2 Rancangan (desain) Penelitian

Penelitian ini menggunakan studi eksperimental, dengan melakukan        manipulasi terhadap satu atau lebih dari variabel subjek penelitian dan         kemudian mempelajari efek perlakuan tersebut.

3.3 Identifikasi Variabel

Variabel bebas                    : malathion, pyrethrin, pyrethroid.

Variabel terikat                   : Kematian nyamuk Ae. aegypti

Variabel pengganggu         : suhu, kelembaban, kecepatan angin, arah angin

3.4 Definisi Operasional Variabel

Malathion adalah insektisida organofosfat tidak berwarna pada amber    liquid berbau seperti bawang, berat molekul 330,4 gr/mol, solubilitas 145    mg/l. membunuh serangga karena dikonversi menjadi malokson yang akan         menghambat enzim asetilkolinesterase pada sistem saraf pusat seranga.

Pyrethrin adalah insektisida alami yang dihasilkan oleh tanaman chrysanthemum, bersifat neurotoksin yang pada dosis letal mampu membunuh serangga.

Pyrethroid adalah derivat semisintetik dari asam chrysanthemumic,         lebih efektif dibandingkan pyrethrin alami.

Efektifitas diukur dari jumlah nyamuk Ae.aegypti yang mati dalam 60    menit.

3.5 Subjek Penelitian

Nyamuk Ae. Aegypti yang dibiakkan di Laboratorium Parasitologi          Fakultas Kedokteran UNJANI.

3.6 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Kriteria inklusi adalah nyamuk Ae.aegypti.

Kriteria eksklusi adalah nyamuk selain nyamuk Ae.aegypti seperti nyamuk     Anopheles sp., nyamuk Culex sp.

3.7 Sampel

Jumlah nyamuk Ae.aegypti yang digunakan adalah sebanyak 150 ekor ,            terbagi dalam 3 buah sarang dan didapatkan dari hasil biakkan yang    dilakukan di Laboratorium Fakultas Kedokteran UNJANI.

3.8 Instrumen Penelitian

Nyamuk Aedes aegypti : 150 ekor

Thermal fogging                                                   : 3 buah

Anemometer (untuk mengkur kecepatan angin) : 1 buah

Barometer (untuk mengukur tekanan udara)       : 1 buah

Higrometer (untuk kelembaban udara)                : 1 buah

Tabel 3.1 Formulasi Thermal Fogging

No Insektisida Formulasi Komersial Persiapan Formulasi
1. Ekstrak pyrethrum Ekstrak 2,0% 1:19, contoh 1 bagian ekstrak pyrethrum 2% dan 19 bagian  kerosene
2. Malathion Technical Malathion 5 bagian Tech. malathion di 95 bagian diesel
3. Pyrethroid

3.9 Cara Pengumpulan Data

Kami akan melakukan penelitian dengan studi eksperimental mengenai       efektifitas kandungan fogging berupa malathion, pyrethrin, pyrethroid terhadap kematian nyamuk Ae. aegypti. Sampel merupakan nyamuk Ae.Aegypti yang dibiakkan di laboratorium parasitologi, sedangkan pelaksanaan penelitian dilakukan di ruang keterampilan medik Fakultas Kedokteran UNJANI yang berukuran 5×3 meter. Fogging dilakukan dengan menggunakan thermal fogging formulasi malathion, pyrethrin, pyrethroid disesuaikan dengan standar dosis yang telah ditetapkan. Fogging dilakukan oleh petugas fogging di tiga ruangan yang berbeda namun suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin disamakan. Setiap ruangan tersebut terdapat satu sarang nyamuk berisi 50 ekor. Setelah dilakukan fogging, ruangan ditutup dan dibiarkan selama 60 menit. Setelah 60 menit kemudian, peneliti memeriksa jumlah nyamuk yang mati.

3.10 Anggaran Biaya Penelitian

- Anemometer             =   3x @  Rp. 343. 750,-          = Rp.    1.031.250,-

- Higrometer, drywet  =   3 x @ Rp.137. 500,-           = Rp.      412. 500,-

- Barometer aneroid    =   3 x @ Rp. 247. 500,-          = Rp.      742. 500,-

- Thermo fogger 982   =   3 x @ Rp. 3. 600. 000,-      = Rp. 10. 800. 000,-

- Malathion                 =                                                  Rp.       120. 000,- /liter

- Pyrethroid                =                                                  Rp.         48. 000,- /liter

- Pyrethrum                 =                                                  Rp.         25. 000,- /liter

- Sangkar nyamuk       =  3 x @ Rp.       300.000,-     =Rp.        900. 000,-

- 150 nyamuk              =                                                 Rp.        150. 000,-

- Petugas fogging        =  3 x @ Rp .      100. 000,-=  Rp.         300. 000,-

-  Solar                         =  3 x @ Rp. 6. 000,- /liter = Rp. 18. 000,-

Jumlah =  Rp.   14. 547. 250,-

3.11 Jadwal Pelaksanaan

Tabel 3.2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian

KEGIATAN BULAN
JUNI JULI
MINGGU KE-1 MINGGU KE-2 MINGGU KE-3 MINGGU KE-4 MINGGU KE-1 MINGGU KE-2 MINGGU KE-3 MINGGU KE-4
Perancangan tema Ö
Penyusunan proposal Ö Ö
Permohonan izin Ö Ö
Pelaksanaan penelitian Ö
Pengolahan data Ö
Pembuatan laporan hasil penelitian Ö

DAFTAR PUSTAKA

  1. Suhendro, Nainggolan Leonard, Chen Khie, et al. Demam Berdarah Dengue. In: Sudoyo Aru W Setiyohadi Bambang, Alwi Idrus, et al, Eds. Ilmu Peynakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006: 1709-26.
  2. Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi. Efektfitas Fogging (pengasapan) dalam Upaya Penanggulangan Demam Berdarah. 2009 (Available on-line with updates at http://dinkes.banyuwangikab.go.id/umum/fogging.html.) (Diunduh pada 11 Juni 2010, 22:13)
  3. Ambarwati, Darnoto Sri, Dwi Astuti. Fogging Sebagai Upaya untuk Memberantas Nyamuk Penyebar Demam Berdarah di Dukuh Tuwak Desa Gonilan, Kartasura, Sukoharjo. Warta, 2006;  9: 130-8.
  4. Monath Thomas P. Dengue and Yellow Fever – Challenges for The Development  and Use of Vaccines. New Engand Journal Medicine, 2007; 357:2222-2225.
  5. Ristina, Isminah, Wulandari Leny. Kajian Masalah Kesehatan: Demam Berdarah Dengue. 2004. (Available on-line with updates at http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052004/demamberdarah1.htm.) (Diunduh pada 11 Juni 2010, 23:36 )
  6. Deen Jacqueline L, Harris Eva, et al. The WHO Dengue Classification and Case Definitions: Time for a Reassesment. 2006. (Available on-lines with updates at http://www.dengue.lcc.ufmg.br/dengue_cd/files/sabermais/materiais/dengue%204%5B1%5D.pdf.) (Diunduh pada 16 Juni 2010)
  7. Naional Pesticide Information Centre (NPIC). Malathion Technical Fact Sheet. 2009. (Available on-line with updates at http://npic.orst.edu/factsheets/malatech.pdf .)(Diunduh pada 11 Juni 2010, 23:43)
  8. Illiois Department of Public Health Prevention and Control. Question and Answers about Spraying for Adults Mosquitoes. (Available on-linewith updates at

http://www.idph.state.il.us/envhealth/factsheets/fog.htm.) (Diunduh pada 15 Juni 2010, 02:32)

  1. Extension Toxicology Network. Pesticide Information Profile: Pyrethrins. 1994 (available on-linewith updates at http://pmep.cce.cornell.edu/profiles/extoxnet/pyrethrins-ziram/pyrethrins-ext.html.) (Diunduh pada 15 Juni 2010, 02:49)
  2. Arbory Imam. Efikasi Insektisida Berbahan Aktif Malathion dan Alfacypemethrin terhadap kematian nyamuk Anopheles aconitus yang Diaplikasikan pada Lampu  Templek. 2004. (Available on-line wih updates at

http://eprints.undip.ac.id/5568/1/2244.pdf.) (Diunduh pada 15 Juni 2010, 02:42)

Malathion. Journal of Pesticide Reform. 2003; 23:10-5.

  1. Guidelines for Insecticide Fogging for Outbreak Control. (Available on-line and updates at http://stg2.kar.nic.in/healthnew/PDF/Guideline_Fogging.pdf. ) (Diunduh pada 15 Juni 2010, 02:53)
  2. Wikipedia. Pyrethrins. 2010. (Available on-line with updates at http://en.wikipedia.org/wiki/Pyrethrin.) (Diunduh pada 16 Juni 2010)
  3. Bug source. ULV Cold Foggers. 2010. (Available on-line with updates at http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://bugsource.com/ulv_cold_fogger.html.) (Diunduh pada 16 Juni 2010)
  4. Wikipedia. Dengue Fever. 2010. (Available on-line with updates at http://en.wikipedia.org/wiki/Dengue_fever.) (Diunduh pada 18 Juni 2010)
  5. Putra Adi Dwi. Efek Jauhnya Jarak Fogging terhadap Kematian Nyamuk. (Available on-line with updates at http://digilib.unimus.ac.id/ .)  (Diunduh pada 18 Juni 2010)

DOWNLOAD FILENYA DI : http://www.4shared.com/file/Sp22SH0u/JUARA_3_ESSAI_EKA_FITRIANI_FK_.html

JUARA 3

Eka Fitriani dari FK UNAND

berikut adalah karyanya :

Chikungunya, Cerita di Negeriku Sayang Negeriku Malang

Oleh :

Eka Fitriani

BP : 07120036

Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Universitas Andalas Padang

Indonesia, terletak di khatulistiwa. Berjajar menjadi salah satu negara di wilayah tropis dengan berjuta pesona yang tersohor hingga berbagai belahan dunia. Kekayaan alam, keramahtamahan, udara yang sejuk dan lainnya yang merupakan khas dari negeri tercinta ini.  Negeriku yang indah seolah mulai memudar pesonamu. Sekarang kita memang kaya, kaya dengan masalah. Nyamuk yang kecilpun bisa menjadi pencetus masalah. Karena nyamuk, masalah Chikungunya mulai menghiasi negeriku ini.

Sebelum saya ungkapkan lebih jauh, sebaiknya kita tahu dulu apa itu Chikungunya. Chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Chikungunya yang disebarkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Selain itu nyamuk ini juga berperan sebagai penyebar penyakit Demam Berdarah Dengue.

Menilik sejarah mengenai penyakit ini, Chikungunya berasal dari virus yang hidup pada hewan primata di tengah hutan atau savana di tanah Afrika kira-kira 200-300 tahun lalu. Setelah beberapa lama, tingkah laku virus chikungunya yang semula bersiklus dari satwa primata-nyamuk-satwa primata, dapat pula bersiklus manusia-nyamuk-manusia. Di daerah permukiman (urban cycle), siklus virus chikungunya dibantu oleh nyamuk Aedes aegypti.

Adanya pembuktian secara ilmiah yang mencangkup isolasi dan identifikasi virus baru berhasil dilakukan ketika terjadi wabah di Tanzania 1952-1953. Baik virus maupun penyakitnya kemudian diberi nama sesuai bahasa setempat (Swahili), berdasarkan gejala pada penderita. Maka hadirlah chikungunya yang berarti posisi tubuh meliuk atau melengkung.

Beberapa negara di Afrika yang dilaporkan telah terserang virus chikungunya adalah Zimbabwe, Kongo, Burundi, Angola, Gabon, Guinea Bissau, Kenya, Uganda, Nigeria, Senegal, Central Afrika, dan Bostwana. Sesudah Afrika, virus chikungunya dilaporkan di Bangkok (1958), Kamboja, Vietnam, India dan Sri Lanka (1964), Filipina dan Indonesia (1973). Chikungunya juga pernah dilaporkan menyerang tiga korp sukarelawan perdamaian Amerika (US Peace Corp Volunteers) yang bertugas di Filipina, 1968. Tidak diketahui pasti bagaimana virus tersebut menyebar antar negara. Mengingat penyebaran virus antar negara relatif pelan, kemungkinan penyebaran ini terjadi seiring dengan perpindahan nyamuk.

Chikungunya telah cukup lama berkembang di negeri kita ini. Bila kita review kembali pertama kali dilaporkan di Samarinda sekitar tahun 1973. Kemudian muncul serentetan kasus Chikungunya di tempat dan tahun yang berbeda. Pada tahun 1980 di Kuala Tungkak, Jambi. Tiga tahun setelah itu merebak di beberapa tempat seperti di Martapura, Ternate dan Yogyakarta. Perkembangan kasus Chikungunya sempat mengalami kevakuman selama 20 tahun. Tapi di tahun 2001 sungguh mengejutkan kasus Chikungunya ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh. Hingga 3 tahun terakhir masih muncul letupan KLB di beberapa daerah di Indonesia. Walaupun begitu penanganan Chikungunya masih belum menjadi prioritas dalam upaya penyakit menular di Indonesia. Dalam hal penanganan kasus Chikungunya masih menjadi komponen dalam upaya pemberantasan Demam Berdarah Dengue. Jadi tindakan pemberantasan Chikungunya sama dengan Demam Berdarah Dengue. Bila tidak diberantas, dua penyakit ini bisa menjadi masalah yang klasik untuk dihadapi.

Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan status yang diterapkan di Indonesia untuk mengklarifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit. Status mengenai diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No.949/MENKES/SK/VII/2004. Sedangkan kriteria mengenai kejadian luar biasa pada Keputusan Dirjen No.451/91 tentang pedoman penyelidikan dan penanggulangan kejadian luar biasa. Berdasarkan hal ini Chikungunya ditetapkan dalam sebagai suatu kasus luar biasa.

Gejala dari Chikungunya memang mirip dengan Demam Berdarah Dengue yaitu demam tinggi, menggigil, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, nyeri sendi dan otot serta bintik-bintik merah pada kulit terutama badan dan lengan. Bila kita bandingkan dengan Demam Berdarah Dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan (Shock) maupun kematian. Masa inkubasi dari demam Chikungunya dua sampai empat hari. Manifestasi penyakit berlangsung tiga sampai sepuluh hari. Virus ini termasuk “Self Limiting Disease” yang berarti hilang dengan sendirinya. Biasanya menyerang persendian yang menimbulkan rasa nyeri yang bisa tertinggal dalam hitungan minggu sampai bulan. Hal ini sering menyebabkan penderita seperti mengalami kelumpuhan. Jadi, ada paradigma masyarakat yang menyatakan Chikungunya menyebabkan mereka jadi lumpuh.

Dalam hal ini bukan berarti saya menganggap hanya Chikungunya ini paling penting dalam hal pemberantasan. Semua penyakit lain juga sangat perlu untuk ditanggulangi segera. Cuma saya ingin kita semua tidak menganggap masalah ini hanya sebelah mata. Dalam hal penanganan melibatkan semua aspek dalam tatanan dari negeri ini. Bisa kita bayangkan bila peraturan yang tidak diindahkan oleh masyarakat. Untuk apa peraturan-peraturan itu dibuat antara pihak legislatif sebagai penyambung lidah rakyat dan pemerintah sebagai pengemban amanat rakyat? Kalau hanya terbuang seperti “sampah” saja. Bukankah suatu kesia-siaan itu tidak baik? Begitu juga sebaliknya bila aksi yang dilakukan masyarakat tidak ada dukungan dari pemerintah. Sama saja kita berteriak di depan tebing. Hanya gema-gema suara yang kita dengar, akan tetapi hal yang diharapkan tidak terlaksana sesuai harapan. Oleh karena itu penting adanya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menangani masalah yang berkecamuk di negeri ini.

Walaupun masih “bersaudara” dengan Demam Berdarah, Chikungunya memang tidak menyebabkan kematian. Akan tetapi bagi sebagian orang masih menganggap Chikungunya merupakan penyakit yang berbahaya. Karena bisa menyebabkan kelumpuhan. Bila hal ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, akan banyak hal yang merugikan akan terjadi. Coba bayangkan saja bila hal ini mengenai seorang yang penghidupannya pas-pasan dan punya banyak anak. Karena sakit, tidak bekerja. Tidak bekerja berarti tidak ada uang. Tidak ada uang akan mengakibatkan himpitan ekonomi semakin menindas. Anak-anak menjadi putus sekolah. Mau jadi apa negeri ini? Kita tahu pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kemajuan negeri ini.

Tempo Interaktif tahun 2010 mensinyalir bahwa sepanjang Januari-Februari 2010, sebanyak 668 warga di enam kecamatan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, menderita demam Chikungunya. Pejabat sementara Kepala Dinas Kesehatan Malang, menyatakan jumlah penderita itu mendekati mendekati jumlah penderita pada tahun 2009 (860 orang), tapi jauh tinggi daripada angka penderita pada tahun 2008 (243 orang) dan 2007 (428 orang). Diperkirakan jumlah penderita akan terus bertambah.

Dari kenyataan diatas, kita bisa melihat belum genap triwulan awal angka kejadian Chikungunya cukup fantastis meningkat bila dibanding tahun sebelumnya. Bila hal ini tidak ditanggulangi secara baik maka penyebaran penyakit ini akan semakin luas. Semakin cepat penanganan terhadap Chikungunya semakin baik hasil yang diperoleh. Sering dilakukan fogging oleh Dinas Kesehatan untuk melokalisir lokasi penyebaran penyakit ini.

Di beberapa negara, Chikungunya dianggap sebagai penyakit “Emerging” dan “Reemerging”. Kita ambil contoh Malaysia dan Thailand. Masuknya penyakit Chikungunya di Malaysia diduga berkaitan dengan kedatangan para pekerja ke Malaysia yang berasal dari daerah endemik Chikungunya. Di Thailand, wabah ini sering muncul pada saat musim hujan. Selain itu travel bisa merupakan jalan masuk penyakit ini ke suatu daerah. Ternyata bukan hanya negeri ini yang bermasalah.

Berdasarkan hasil penelitian epidemiologi penyakit Chikungunya di Bangkok (Thailand) dan Vellore, Madras (India) menunjukkan bahwa telah terjadi gelombang epidemik dalam interval 30 tahun. Gelombang epidemi ini berkaitan dengan populasi dari nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit ini dan status kekebalan penduduk. Bila kita hubungkan, pada penderita yang sudah pernah terkena penyakit ini akan kecil kemungkinan akan terkena lagi di kemudian harinya. Hal ini dikarenakan tubuh penderita akan membentuk antibodi yang berperan sebagai bentuk kekebalan terhadap penyakit ini.

Bila lebih kita cermati lagi memang masalah Chikungunya tidak bisa dipandang sebelah mata. Seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja, kasus ini mungkin bisa menyaingi kepopuleran penyakit yang telah menjadi trend-centre perhatian praktisi kesehatan. Meski tidak menyebabkan kematian, hendaknya kita tetap perlu mewaspadai penyebaran virus ini. Penanganan kasus ini harus dilakukan secara komprehensif. Kalau tidak, cepat atau lambat hal ini akan menjadi suatu ancaman bagi kita semua.

Berbicara mengenai penanganan secara komprehensif sangat erat kaitan dengan anggaran kesehatan yang disediakan oleh Pemerintah. Ketika saya telusuri ternyata pemerintah menargetkan alokasi sektor kesehatan naik dari sebelumnya 2,3 persen hingga 2,4 persen menjadi 5 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011. Mengutip penyataan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka acara temu Ilmiah di Fakultas Kedokteran UI beberapa waktu yang lalu menyatakan bahwa peningkatan alokasi anggaran kesehatan diantaranya akan dialokasikan untuk menjalankan aksi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di sektor kesehatan. Ternyata pemerintah pun mengharap lebih terhadap sektor kesehatan di Indonesia. Pemerintah ingin negeri ini sehat. Rakyat yang sehat merupakan investasi yang sangat berharga bagi negeri ini.

Terlebih lagi adanya tuntutan perubahan di tingkat global termasuk Indonesia untuk memajukan ketatakeloloan yang baik di semua lini termasuk sektor kesehatan. Isu kesehatan yang menjadi perhatian utama yakni pencapaian target Millenium Development Goals (MDG) pada tahun 2015. Menteri Kesehatan Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH saat berpidato di IPB bulan April lalu mengatakan bahwa perlu adanya peningkatan dan kesinambungan investasi agar dihasilkan percepatan momentum MDG. Sudah jelas bahwa prinsip “health is an investment, not a cost” harus menjadi titik tolak dalam kebijakan kesehatan. Saya pun sependapat hendaknya kita mengubah mindset mengenai kesehatan itu sendiri. Kesehatan bukan sesuatu hal yang percuma akan tetapi merupakan sebuah investasi yang sangat berharga dalam kehidupan kita. Tanpa adanya kesehatan, hidup tidak ada artinya apa-apa. Dengan memiliki tubuh yang sehat kita bisa menjalani hidup lebih baik lagi dan menjadi seseorang yang berguna.

Bagaimanapun juga penanganan yang segera merupakan kunci untuk mencegah penyebaran yang lebih luas dari penyakit ini. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Upaya penanggulangan KLB Chikungunya adalah kolaborasi yang harmonis antara kegiatan penyelidikan, pengobatan, pencegahan dan surveilans ketat.

Memutus rantai kehidupan virus dengan membasmi nyamuk merupakan pilihan yang solutif. Hal ini senada dengan cara pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue. Akan tetapi fogging memiliki titik lemah tersendiri. Fogging cukup baik tapi ini hanya efektif untuk membasmi nyamuk dewasa.

Rakyat tak perlu pesimis. Sebenarnya, ada banyak cara pencegahan selain fogging. Cara ini dinilai efektif sekali cukup dengan melakukan Gerakan  Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3 M Plus. Pertama, cukup dengan menguras tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes Aegypti. Kedua, menutup rapat tempat penampungan air agar nyamuk tidak bisa bertelur disana. Ketiga, dengan mengubur atau membuang pada tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas yang dapat menampung air hujan.

Gerakan abatisasi dalam 3 M Plus memang sangat bagus. Namun, sejumlah orang yang mengaku petugas kesehatan mengambil keuntungan di Kota Denpasar dengan menjual bubuk abate palsu ke tiap rumah seharga Rp 10 ribu untuk 5 bungkus. Kasus penipuan ini langsung mendapat perhatian Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Hal ini lantara praktik penipuan seperti itu setiap tahun selalu terulang. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Denpasar, Ni Putu Sriarmiti, Sabtu (20/2), bubuk abate palsu memiliki ciri, bungkusnya terbuat dari kertas dan isinya sekilas mirip pasir pantai dicampur garam. Sedangkan bubuk abate asli bungkusnya terbuat dari alumunium foil. Isinya mengandung larvasida atau pembasmi jentik nyamuk. Bubuk abate tidak pernah diperjual belikan.  (www.liputan6.com)

Melihat kondisi negeri yang seperti saat ini, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan acara komedi yang lagi laris manis. Ngawur, tanpa skenario yang jelas, kadang lucu serta menghibur. Negeri ini memang penuh bermacam cerita. Saat bencana melanda malah dimanfaatkan oleh sebagian orang sebagai mesin uang demi kepentingan pribadi. Dimana hati nurani ini? Apa karena perlu uang segala cara seolah menjadi halal untuk dilakukan? Sungguh kasihan sekali negeri ini.

Kita semua pasti masih ingat Gempa 30 September 2009. Gempa yang telah memporak-porandakan tatanan kehidupan terutama di wilayah Padang, Pariaman dan sekitarnya. Hidup di bawah tenda bagi para korban mungkin merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Dengan berbekal bantuan seadanya, hidup harus terus tetap berjalan. Hujan panas seolah merupakan hal yang sudah mulai terbiasa. Sebut saja, buk Ani, beliau merupakan salah satu korban gempa di Lubuk Basung. Waktu itu saya ikut dalam tim medis dalam bantuan pengobatan yang berkerjasama dengan Ikatan Remaja Mesjid di Yogyakarta. Beliau bertutur banyak warga menderita ngilu-ngilu di sendi serta badan mereka demam. Diduga mereka mengalami Chikungunya. Apa mungkin hal ini terjadi akibat alam tidak lagi bersahabat dengan manusia. Benarkah memang begitu yang terjadi di negeri ini?

Hukum rimba berlaku di negeri ini. Siapa yang berkuasa dialah yang menang. Tak peduli di wilayah manapun. Tak peduli apakah itu menyangkut nyawa manusia. Yang masih punya hati tersingkiri. Yang punya nurani ditertawai. Dunia ini adalah sebuah panggung, dimana semua arogansi menjadi mutlak untuk mendapat materi. Benarkah begitu? Benarkah jiwa kemanusiaan kita telah mati? Seakan penderitaan orang lain tiada lagi berarti? Sepenuhnya saya tidak sependapat dengan hal ini karena masih banyak kepedulian yang masih tampak. Masih banyak uluran-uluran tangan manusia berhati malaikat di negeri ini. Penanganan Chikungunya ini merupakan tugas kita semua. Masih ada bentuk kepedulian anak negeri di Belitung dalam “Aksi 1000 Kaki Berantas Chikungunya”. Mungkin masih banyak bentuk kepedulian lain dari negeri ini lagi yang belum banyak terdokumentasi oleh media massa.

Negeriku ini memang penuh dengan banyak cerita. Penuh masalah yang mungkin tak kunjung habisnya. Tapi, masih ada secercah sinar harapan agar negeri ini menjadi lebih baik. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya kerjasama di segala komponen dalam negeri ini. Agar cerita ini bisa membuat anak bangsa tersenyum saat mengenangnya untuk masa sekarang maupun nanti. Semoga mimpi ini tak hanya sekadar mimpi belaka. Pastinya berakhir dengan kenyataan yang indah.

DOWNLOAD FILENYA DI : http://www.4shared.com/file/rAnTFhIX/JUARA_2_ESSAI_RIMA_FK_UGM.html

 

JUARA 2

Rima Mustafa dari FK UGM

Berikut adalah karyanya :

Jangan Berikan Darahmu Untuknya, Antara Realita dan Harapan

oleh

Rima Mustafa

Selama dekade terakhir, prevalensi malaria di dunia meningkat secara tajam. Peningkatan ini sudah mencapai tingkat yang perlu diwaspadai. Program eradikasi malaria global pada tahun 1950 dan 1960 mengalami kemunduran di awal tahun 1970. Penyakit ini meningkat pelan-pelan di wilayah Asia dan Amerika Selatan. Sebelumnya jumlah penyakit di tempat tersebut telah berkurang hingga level yang rendah. Hal ini membuka wacana bagi kita bahwa malaria merupakan penyakit global yang saat ini membutuhkan perhatian khusus. Di Indonesia sendiri, angka kesakitan malaria masih cukup tinggi, terutama di daerah Indonesia bagian timur.

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan karena infeksi protozoa yang berasal dari genus Plasmodium. Terdapat 4 spesies dari protozoa genus tersebut yang menyebabkan malaria pada manusia yakni Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, dan Plasmodium malariae. Masing-masing subspesies menyebabkan malaria dengan manifestasi klinis yang berbeda. Plasmodium falciparum nerupakan jenis yang menyebabkan malaria dengan tingkat kematian tertinggi karena dapat menyerang sel darah merah dalam segala usia serta menghasilkan parasitemia >106 per µl darah. Jumlah tersebut paling tinggi apabila dibandingkan dengan tiga spesies lainnya.

Demam merupakan gejala utama penyakit malaria. Manifestasi yang paling berat adalah cerebral malaria, anemia, serta disfungsi ginjal dan organ lain. Cerebral malaria terutama ditemukan pada anak-anak dan individu yang mengalami infeksi malaria untuk pertama kali. Sementara itu, anemia sering dijumpai pada anak-anak dan ibu hamil. Individu yang terpapar penyakit tersebut akan mencapai tingkat imunitas tertentu yang tidak stabil dan hilang dalam periode satu tahun setelah meninggalkan lingkungan endemis malaria. Imunitas akan muncul kembali setelah infeksi ulang apabila orang tersebut kembali ke lingkungan endemis malaria. Kebanyakan penderita yang meninggal karena malaria adalah individu yang mengalami infeksi malaria untuk pertama kali, terutama anak-anak atau individu yang sebelumnya berasal dari wilayah dimana tidak ada transmisi malaria atau individu dari negara yang lebih modern di mana tidak ditemukan penyakit tersebut.

Infeksi pada manusia dimulai dari masuknya sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk Anopheles betina ke dalam tubuh manusia. Sporozoit ini akan segera diangkut dengan cepat melalui aliran darah ke dalam hati, disini sporozoit menginvasi sel parenkim hati untuk memulai periode reproduksi aseksual, kemudian sporozoit bermultiplikasi dan berkembang menjadi skizont jaringan. Tahap ini disebut dengan fase pra-eritrosit. Sel hati akan membengkak dan pecah sehingga skizont melepaskan beribu-ribu merozoit yang akan masuk ke dalam sirkulasi darah dan menginvasi eritrosit. Lamanya fase intrahepatik ini bervariasi tergantung dari jenis spesies Plasmodiumnya. Khusus untuk Plasmodium ovale dan Plasmodium vivax, skizont jaringan pada sel parenkim hati dapat mengalami masa dorman dikenal juga dengan fase hipnozoit yang dapat berlangsung selama beberapa bulan, satu tahun, atau mungkin dapat lebih lama lagi. Inilah yang menyebabkan fenomena relaps pada dua spesies tersebut.

Merozoit menginvasi eritrosit dengan melekat melalui reseptor permukaan spesifik eritrosit. Merozoit di dalam eritrosit akan berkembang membentuk trofozoit. Selama stadium awal perkembangannya “bentuk cincin” yang kecil dari keempat spesies parasit tampak serupa di bawah mikroskop cahaya. Dengan membesarnya trofrita mozoit, karateristik spesifik-spesies menjadi semakin nyata, pigmennya semakin tampak jelas dan parasit tersebut mengambil bentuk ireguler atau amuboid. Trofozoit mengalami perkembangan menjadi skizont. Eritrosit yang mengandung skizont ini akan mengalami ruptur dan skizont akan melepaskan merozoit ke dalam sirkulasi, sementara sebagian merozoit ini akan menginvasi eritrosit kembali dan mengulang tahapan skizogoni intraeritrosit. Lepasnya merozoit dari eritrosit ini akan menimbulkan gejala yang khas, yaitu demam yang diikuti dengan menggigil yang terjadi secara periodik.

Sebagian merozoit mengalami diferensiasi membentuk gametosit (makrogamet dan mikrogamet). Gametosit ini nantinya masuk ke dalam tubuh nyamuk Anopheles apabila nyamuk ini menghisap darah dari penderita malaria. Nyamuk betina menggigit pasien yang menderita malaria. Darah yang dihisapnya mengandung gametosit Plasmodium yang selanjutnya melalui tahap perkembangan seksual di usus nyamuk. Hasil perkembangan di dalam tubuh nyamuk membentuk sporozoit yang akhirnya memasuki kelenjar ludah nyamuk. Nyamuk menularkan sporozoit dari jaringan ludahnya ketika menggigit orang yang sehat. Dengan memahami perjalanan perkembangan Plasmodium di dalam tubuh manusia dan nyamuk Anopheles, dapat kita simpulkan dengan jelas bahwa seorang individu tidak akan pernah menderita malaria apabila ia tidak digigit nyamuk Anopheles yang mengandung sporozoit dalam kelenjar ludahnya. Oleh karena itu, selain upaya pencegahan melalui obat anti malaria, strategi untuk mencegah penyakit ini adalah dengan memberantas atau menghindari gigitan nyamuk Anopheles.

Di dalam program pemberantasan malaria yang utama dilakukan adalah pemberantasan vektor. Agar mendapatkan hasil yang maksimal, perlu dukungan data penunjang yang menerangkan tentang seluk-beluk vektor yang berperan. Untuk menentukan metode pemberantasan yang tepat guna, perlu diketahui dengan pasti musim penularan serta perilaku vektor yg bersangkutan. Penentuan musim penularan yang tepat perlu didukung oleh data entomologi yang baik dan benar. Selain itu, metode yang dipilih harus sesuai dengan perilaku vektor yang menjadi sasaran. Dalam pemberantasan penyakit malaria sangat erat hubungannya dengan aspek entomologi. Dalam hal ini aspek entomologi menjadi tanggung jawab unit lain di luar unit pemberantasan malaria. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang maksimal diperlukan suatu koordinasi yang mantap, serta sinkronisasi program antara unit entomologi dengan unit pemberantasan malaria.

Dalam upaya memberantas larva atau nyamuk Anopheles, kita perlu memahami perilaku nyamuk. Perilaku mencari darah nyamuk dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu perilaku mencari darah yang ditinjau dari segi waktu, tempat, sumber darah, serta frekuensi menggigit. Apabila ditinjau dari segi waktu, nyamuk Anopheles pada umumnya aktif mencari darah pada waktu malam hari. Setiap spesies mempunyai sifat yang tertentu. Ada spesies yang aktif mulai senja hingga menjelang tengah malam dan sampai pagi hari.

Ditinjau dari segi tempat, penangkapan nyamuk dapat dilakukan di dalam atau di luar rumah. Berdasarkan hasil penangkapan tersebut, diketahui ada dua golongan nyamuk yaitu eksofagik dan endofagik. Tipe eksofagik lebih senang mencari darah di luar rumah, sementara tipe endofagik lebih senang mencari darah di dalam rumah. Berdasarkan macam darah yang disenangi, nyamuk dapat dibedakan menjadi tipe antropofilik dan zoofilik. Nyamuk termasuk tipe antropofilik apabila lebih senang menghisap darah manusia. Sementara itu, tipe zoofilik merupakan tipe nyamuk yang lebih senang menghisap darah binatang dan golongan yang tidak mempunyai pilihan tertentu.

Nyamuk betina biasanya hanya kawin satu kali selama hidupnya Untuk mempertahankan dan memperbanyak keturunannya, nyamuk betina hanya memerlukan darah untuk proses pertumbuhan telur. Setiap beberapa hari sekali, nyamuk akan mencari darah. Interval tersebut tergantung pada spesies serta dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban. Sesuai dengan iklim di Indonesia, waktu yang diperlukan antara 48-96 jam.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa strategi untuk mencegah penyakit ini adalah dengan memberantas atau menghindari gigitan nyamuk Anopheles. Dewasa ini, upaya pemberantasan penyakit malaria dilakukan melalui pemberantasan vektor penyebab malaria (nyamuk Anopheles). Pemberantasan malaria dilakukan dengan penyemprotan rumah dan lingkungan sekeliling rumah dengan racun serangga untuk membunuh larva nyamuk. Upaya ini juga bermanfaat untuk membunuh nyamuk dewasa.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membunuh larva nyamuk Anopheles. Secara garis besar, cara-cara tersebut dapat dibagi menjadi cara kimiawi dan hayati. Cara kimiawi dilakukan dengan menggunakan larvasida. Larvasida merupakan zat kimia yang dapat membunuh larva nyamuk. Beberapa contoh larvasida antara lain solar atau minyak tanah, parisgreen, temephos, fention, altosid, dan lain-lain. Selain zat-zat kimia yang disebutkan di atas dapat juga digunakan herbisida. Herbisida merupakan zat kimia yang mematikan tumbuh–tumbuhan air yang digunakan sebagai tempat berlindung larva nyamuk. Pemberantasan larva nyamuk Anopheles secara hayati dilakukan dengan mengunakan beberapa agent biologis seperti predator misalnya pemakan jentik seperti gambusia, guppy dan panchax (ikan kepala timah).

Selain cara kimiawi dan hayati untuk pencegahan malaria,  dapat juga dilakukan pengelolaan lingkungan hidup (environmental management) yang baik. Caranya adalah dengan pengubahan lingkungan hidup (environmental modification) sehingga larva nyamuk Anopheles tidak mungkin hidup. Kegiatan ini antara lain dapat berupa penimbunan tempat perindukan nyamuk, pengeringan dan pembuatan dam, selain itu kegiatan lain mencakup pengubahan kadar garam, pembersihan tanaman air atau lumut dan lain-lain.

Dalam rangka pencegahan malaria, upaya pemberantasan nyamuk Anopheles seperti yang telah diuraikan di atas dilanjutkan dengan melakukan pengobatan kepada mereka yang diduga menderita malaria. Pengobatan juga diberikan pada penderita malaria yang terbukti positif secara laboratorium.Selain itu, upaya pencegahan malaria dapat dilakukan dengan pemberian obat anti malaria. Akan tetapi, penerapan upaya pencegahan melalui obat anti malaria telah menimbulkan masalah baru di bidang kesehatan berupa resistensi parasit terhadap profilaksis yang diberikan. Efek ini menambah sederet permasalahan resistensi parasit akibat penggunaan obat. Tentunya ini bukan permasalahan yang mudah untuk ditangani karena resistensi menyebabkan terapi yang diberikan tidak memberikan hasil. Pada akhirnya, hal ini menuntut kita untuk menemukan obat baru sebagai terapi penyakit tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disusun beberapa upaya dalam rangka mencegah malaria. Beberapa upaya tersebut antara lain dengan menghindari keluar rumah pada sore atau malam hari. Apabila keluar rumah di malam hari, dianjurkan memakai celana panjang dan baju berlengan panjang dengan warna yang tidak gelap. Warna gelap akan mengundang datangnya nyamuk. Selain itu, disarankan untuk memilih tempat menginap yang dilengkapi pendingin (air conditioner), atau yang mempunyai kasa pelindung nyamuk. Bila tepat penginapan tidak dilengkapi pendingin dan tak memakai kasa pelindung nyamuk, diupayakan tidur dengan kelambu yang sebelumnya dicelup dalam larutan insektisida (permetrin). Selain itu, upaya lain adalah dengan memoleskan seperlunya repellent yang mengandung dimethyl phtalate atau N,N dietyltoluamide (DEET) pada bagian-bagian badan yang terbuka, serta memakai insektisida dalam bentuk semprot (spray), dispenser (memakai baterai atau listrik) atau dibakar untuk menghalau nyamuk.

Strategi tersebut telah sering didengar dan diketahui oleh banyak orang. Akan tetapi, realita menunjukkan bahwa strategi ini belum banyak diterapkan dalam masyarakat. Paradigma masyarakat seringkali mengatakan bahwa tidak masalah terkena suatu penyakit karena dokter akan dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Masyarakat belum mengetahui seberapa besar masalah terkait malaria yang kini ada di Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur. Oleh karena itu, perlu kita informasikan kepada masyarakat tentang hal ini. Selain itu, poin penting yang perlu kita lakukan adalah menanamkan kembali bahwa cara pencegahan di atas bukan cara yang sulit dilakukan, artinya ini dapat diterapkan apabila kita memang berniat menerapkannya.

Seperti yang telah disampaikan oleh Leavel dan Clark dalam prinsip Five Level of Prevention, tugas dokter bukan hanya mengobati pasien yang sudah terlanjur sakit, tetapi juga mencegah agar seseorang tidak terkena penyakit tersebut. Edukasi tentang upaya pencegahan ini di akhir kunjungan pasien setidaknya dapat mengingatkan pasien untuk menerapkan kembali upaya pencegahan yang sebelumnya mungkin telah diketahui oleh mereka. Optimalisasi upaya pencegahan penyakit malaria dengan menghindari gigitan nyamuk diharapkan dapat membawa perubahan terhadap realita masalah malaria yang ada di Indonesia. Lebih jauh lagi, strategi ini dapat dikembangkan untuk membantu mengatasi masalah malaria di dunia. Sekali lagi, jangan berikan darahmu untuk nyamuk karena kita tidak tahu apa yang dimasukkannya saat menghisap darah kita!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.