Oleh

SUTEDJA

 

Pendahuluan

Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit yang biasanya diderita oleh orang yang berusia lanjut disebabkan karena telah terjadi perubahan anatomi dan fungsi organ yang bersangkuatan. Pada saat ini prevalensinya telah mengalami peningkatan. Jumlah penderitanya sudah makin berusia muda.    Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit khronis dan untuk penyembuhannya memerlukan biaya yang mahal dan pada beberapa penyakit memerlukan pembedahan atau pengobatan yang terus menerus selama hidup.

Prevalensi penyakit kardiovaskuler di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Case fatality rate penyakit kardiovaskuler yang dirawat di rumah sakit menempati urutan teratas dibandingkan dengan penyakit lainnya. Hal ini mungkin karena perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia terutama meeka yang hidup di daerah perkotaan.

Sebagai penyakit yang bersifat khronis serta mengarah pada usia yang makin muda kita memerlukan pengetahuan berbagai faktor penyebabnya agar penyakit tersebut dapat dicegah paling sedikit dapat diketahui sejak dini sehingga dapat diobati segera sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih berat.

Dari semua penyakit kardiovaskuler yang dialami masyarakat prevalensi terbesar adalah hipertensi. Dari seluruh kejadian hipertensi sekitar 90% merupakan penyakit hipertensi esensial. Diduga hipertensi esensial merupakan penyakit turunan. Bagaimana prosesnya sampai saat masih merupakan dugaan.

Hipertensi jika tidak dikelola dengan baik akan berakibat pada kegagalan jantung. Hipertensi jika terjadi memerlukan pengobatan terus menerus selama hidup. Oleh karena itu sikap yang paling baik adalah bagaimana mencegah jangan sampai hipertensi terjadi. Hal ini ditintjau dari segi biaya, pencegahan lebih murah dibandingkan dengan pengobatan. Syaratnya adalah pengetahuan masyarakat yang memadai dan sikap yang positif  untuk melakukan pencegahan.

 

Hipertensi esensial merupakan penyakit yang sangat perlu difahami oleh dokter pelayanan kesehatan primer mulai dari bagaimana melakukan pencegahan sampai dengan penanganannya secara tuntas. (Dalam Standar Kompetensi Doker Indonesia termasuk dalam Tingkat Kemampuan 4 ). Fngsi utama dokter pelayanan kesehatan primer adalah pencegahan. Dalam aspek pencegahan penyakit kardiovaskuler kita mengenal pencegahan tingkat pertama dan pencegahan  tingkat ke dua.

Tahap pencegahan dalam ilmu kedokteran yang dilakukan oleh dokter pelayanan kesehatan primer adalah tahap promotion, spesific protection dan early diagonoses and prompt treatment.

Tahap promotion dan specific protection termasuk dalam pencegahan tingkat pertama, sedangkan early diagnoses and prompt treatment termasuk dalam pencegan tingkat ke dua.

Pencegahan tingkat pertama adalah tindakan untuk mencegah penyakit kardiovaskuler tidak terjadi. Sedangkan pencegahan tingkat ke dua jika penyakit tersebut telah dialami oleh seseorang dapat diketahui sedini mungkin dan dapat dikelola agar tidak makin bertambah berat atau sampai menimbulkan cacat.

Oleh karean pencegahan tingkat ke dua merupakan materi bagian lain maka dalam makalah ini hanya akan disampaikan pencegahan tingkat pertama khususnya dalam aspek promotion.

Untuk bisa melakukan pencegahan penyakit hipertensi , seorang dokter pelayanan kesehatan primer perlu mengetahui perjalanan penyakitnya,  dia harus tahu tiga faktor yang akan mempengaruhi terjadinya penyakit.

Pertama, faktor orang dari segi kebugarannya, status gizinya, jenis kelamin, usia, siuasi kejiwaanya, pekerjaannya.

Kedua, adalah penyebabnya bagaimana penyakit itu bisa timbul. Dalam hipertensi yang yang menjadi penyebab langsung tidak ada. Yang ada adalah faktor risiko yang memuingkinkan seseorang menderita hipertensi. Faktor risiko itu bisa berasal dari orang tapi bisa juga dari lingkungan atau dari keduanya.

Ketiga, adalah faktor lingkungan yang berpengaruh pada orang atau penyebab. Faktor lingkungan tersebut meliputi faktor lingkungan fisik seperti kegaduhan (kebisingan), lingkungan kimiawi yang akan menadi pencetus terjadinya hipertensi atau faktor sosial yaitu jenis pekerjaan yang bisa menimbulkan stres kerja.

 

Faktor risiko sebagai pencetus terjadinya hipertensi

Faktor pencetus hipertensi esensial dapat dibagi dalam dua kelompok :

1. Faktor tidak dapat dikendalikan (dikontrol)

  • keturunan,
  • usia
  • jenis kelamin.

 

  • Faktor keturunan.

Riwayat keluarga yang menunjukkan adanya hipertensi merupakan faktor risiko paling kuat bagi seseorang untuk mengidap hipertensi di masa datang.

 

  • Faktor usia

Dari hasil penelitian di negara barat terdapat hubungan yang positif antara umur dengan tekanan darah di sebagian besar  populasi dengan berbagai ciri geografi, budaya, dan sosio-ekonomi.

 

  • Faktor jenis kelamin.

Pada usia dini tidak terdapat bukti nyata tentang adanya perbedaan tekanan darah antara pria dan wanita. Pada masa remaja, pria cenderung menunjukkan aras rata rata yang lebih tinggi. Perbedaan ini lebih jelas pada orang dewasa muda dan orang setengah baya. Pada uisa tua, perbedaan ini makin menyempit dan polanya bahkan dapat terbalik.. Perubahan pada masa tua dimana tingkat kematian awal lebih tinggi pada pria setengah baya akibat hipertensi, sementara perubahan pasca-menopause pada wanita yang berpengaruh.

 

2. Faktor yang dapat dikendalikan (dikontrol) yang dipengaruhi oleh kebiasaan, gaya hidup dana faktor lingkungan lainnya yaitu :

  • kurang bergerak,
  • kebiasaan merokok,
  • kebiasaan minum alkohol,
  • kegemukan,
  • stres,
  • makanan terlalu  banyak mengandung garam dapur,
  • hiperlipidemia.

 

Program promosi dan prevensi penyakit kardiovaskuler

Dari uraian tersebut di atas maka kegiatan promosi dan pencegahan hipertensi hanya pada faktor yang dapat dikendalikan, sedangkan faktor yang tidak dapat dikendalikan hanya sebagai faktor pendukung dalam menilai faktor yang dapat dikendalikan.

Untuk bisa melakukan pencegahan hipertensi dapat dilakukan dengan dua bentuk pendekatan yaitu :

  1. Pendekatan individu
  2. Pendekatan komunitas

 

Pendekatan individu dilakukan pada orang yang datang untuk memeriksakan kesehatannya kepada dokter, mungkin hanya ingin mengetahui status kesehatannya  seperti pemeriksaan kesehatan berkala pada perusahaan, instansi pemerintah atau perorangan, mereka yang meminta surat sehat untuk keperluan mencari pekerjaan atau mereka yang datang kepada dokter dengan keluhan sakit kepala atau keluhan lainnya. Bagi pasien yang datang terutama yang berusia pertengahan ke atas perlu dilakukan pemeriksaan tekanan darah sebagai suatu keharusan.

Pendekatan individu lebih menekankan pada diagnosa dini dan terapi tepat (early diagnoses and prompt treatment). Dalam kasus ini kemampuan dokter untuk bisa meyakinkan pasien dengan melakukan komunikasi efektif.

 

Pendekatan komunitas dilakukan dengan membentuk kelompok masyarakat yang peduli pada bahaya hipertensi dengan melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mampu mendeteksi dini hipertensi dan melakukan berbagai kegiatan untuk menurunkan risiko kejadian hipertensi.

Dalam Program Promosi Kesehatan di tingkat puskesmas ada Program Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) bagi masyarakat tingkat RW yang berusia 45 tahaun ke atas. Dalam program ini yang dilakukan sebulan sekali salah satu kegiatannya adalah memeriksa tekanan darah peserta secara rutin. Jika ada peserta yang menderita hipertensi oleh petugas puskesmas diberikan penyuluhan dan dianjurkan untuk berobat ke puskesmas.

Bagi ibu hamil pemeriksaan tekanan darah selama kehamilannya merupakan standar pelayanan baku paling sedikit empat kali yaitu satu kali pada tri mester pertama, satu kali pada tri mester ke dua dan dua kali pada tri mester ke tiga. Pemeriksaan rutin ini berkaitan dengan risiko kemungkinan terjadinya keracunan kehamilan. (lihat Blok selanjutnya).

 

Uraian tentang kegiatan yang perlu dilakukan

1.  Olah raga  / latihan meningkatkan kebugaran tubuh

Olah raga dimaksudkan agar tubuh harus selalu bergerak.

Manfaat olah raga : meningkatkan kemampuan jantung-paru-paru (ketahanan kardio-respirasi), memperkuat sendi-sendi dan ligamen, memperkuat otot tubuh, menurunkan tekanan darah, mengurangi lemak tubuh, meningkatkan konsentrai HDL dan menurunkan konsentrasi LDL, memperbaiki bentuk tubuh, mngurangi kadar gula darah, mengurangi risiko penyakit jantung koroner, memperlencar aliran darah, memperlancar pertukaran gas.

Cara berolah raga : pilih olah raga yang sesuai dengan kondisi tubuh , harus disenangi, latihan penuh variasi.

Olah raga terbagi dalam empat  jenis yaitu :

  • Olah raga masal
  • Olahraga kesehatan
  • Olah raga pertandingan
  • Olah raga rekreasi

Jenis olah raga apa yang akan dilakukan disesuaikan dengan kemampuan fisik sebelumnya. Untuk bisa mengetahuinya memerlukan pemeriksaan kebugaran sebelumnya

Agar hasilnya memadai  frekwensinya  3 – 5 kali per minggu.

Untuk menurunkan berat badan dalam rabngka menurunkan risiko hipertensi bentuk olah raganya adalah olah raga kesehatan dalam bentuk olah raga isotonik dinamik seperti berjalan kaki, berenang. Dalam istilah populer adalah olah raga aerobik. Bukan olah raga isometrik statik seperti angkat berat. Dengan olah raga isotonik akan menggunakan lemak cadangan tubuh sebagai energinya sehingga kadar lemak tubuh menurun. Menurut penelitian jika olah raga ini dilakukan minimal tiga bulan secara teratur akan menurunkan tekanan darah.

 

  1. 2. Mengatur diit.

Selain dengan olah raga kesehatan, untuk menurunkan risiko hipertensi adalah dengan

mengatur makanan yang dikonsumsi. Selain  harus memenuhi kebutuhan kalori dan gizi  yang sesuai dengan aktifitas yang bersangkutan , tetapi harus memperhatikan asupan garam yang minimal, banyak mengandung serat, tidak mengandung lemak jenuh

NaCl sebetulnya diperlukan untuk mempertahankan tekanan osmotik darah. Yang harus  dihindari adalah makanan yang asin. Tubuh sebenarnya memerlukan garam rata rata 6 gram dapur per hari.

Dalam mengkonsumsi jenis asupannya harus memperhatikan diet seimbang dengan karbohidrat : 55-60%, protein 20-25%, lemak 20% dengan syarat lemaknya adalah lemak tidak jenuh (minyak ikan, kacang kacangan, minyak sayuran)

Jumlah asupan kalorinya disesuaikan dengan aktifitasnya. Untuk lebih jelasnya dapat dipelajari dari Blok sebelumnya.

Oleh karena kegemukan merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler maka berat badannya sebaik mungkin dengan menggunakan rumus Indeks Masa Tubuh (IMT):

IMT : Berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter (lihat tabel)

 

Risiko morbiditas yang berhubungan dengan IMT dan lingkar perut

pada orang dewasa Asia (Indonesia)

 

Klasifikasi IMT (kg/m2) Risiko morbiditas
  Lingkar perut
< 90 cm (laki-laki)

< 80 cm (perempuan)

≥ 90 cm (laki-laki)

≥ 80 cm (perempuan)

Underweight

 

 

 

Normal

 

Overweight

Berisiko

Obes I

Obes II

< 18,5

 

 

 

18,5–22,9

 

≥ 23

23–24,9

25–29,9

≥ 30

Rendah (tapi risiko klinis lain meningkat)

 

Rata-rata

 

 

Meningkat

Sedang

Berat

Rata-rata

 

 

 

Meningkat

 

 

Sedang

Berat

Sangat berat

 

 

Bagi masyarakat awam untuk mengetahui berat badan dengan menggunakan rumus berikut : Berat badan normal = Berat badan dalam cm – 100 =  kg

Berat badan ideal     = ( Tinggi badan – 100 ) – 10% (Tinggi badan – 100)

 

3. Mengubah gaya hidup

Merokok sebagai gaya hidup perlu dihilangkan oleh karena selain sebagai faktor risiko terjadinya Ca paru paru juga akan merusak dinding saluran darah yang mempunyai risiko penyempitan jantung koroner. Untuk menghentikan perilaku merokok memang sangat sulit memerlukan displin dari pecandu rokok sendiri.

Kebiasaan  minum alkohol selain bertentangan dengan agama (islam) perlu dihentikan .

Banyak melakukan rekreasi untuk menurunkan stres. Olah raga pun sebenarnya berfungsi untuk menurunkan stres.

 

4. Pendidikan Kesehatan Masyrakat

Pendidikan kesehatan merupakan pendekatan komunitas dimana perlu kerja sama antara pemerintah dalam hal ini unsur kesehatan (Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan) di samping unsur pemerintah lainnya seperti Departemen Perindustrian, Departemen Keuangan dll yang merupakan aktor utama dan dibantu oleh lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat umum yang peduli terhadap bahaya hipertensi dengan membentuk Organisasi Peduli Bahaya Penyakit Kardiovaskuler

Hasil dari pendidikan kesehatan ini dampaknya tidak akan cepat,  memerlukan upaya yang terus menerus, tanpa berhenti. Hal ini disebabkan adanya perbedaan ekonomi, sosial budaya, dan kepentingan ekonomi masyarakat.

Metoda yang digunakan agar memperoleh hasil yang optimal harus memenuhi beberapa persyaratan di antaranya :

  • Memilih pendekatan yang tepat untuk populasi tertentu
  • Pesan harus sederhana dan disampaikan berulang-ulang
  • Mengembangkan pesan yang secara sosial dan budaya dapat diterima
  • Menyadari bahwa program tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit
  • Menyadari bahwa banyak fihak yang akan menghalanginya  karena kepentingan mereka akan  terganggu.

 

 

5. Program Pencegahan Penyakit Kardiovaskuler di Amerika Serikat

Sebagai pembanding disini akan disampaikan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dalam Konferensi tentang Pencegahan Penyakit Kardiovaskuler yang mengusulkan kepada Pemerintah Amerika Serikat  di antaranya adalah :

  1. Pendidikan (education) : mendidik masyarakat, pemberi pelayanan, kelompok masyarakat, pemerintah untuk menurunkan faktor risiko.
  2. Kebijakan pangan : menurunkan kandungan lemak dalam susu dan produk daging dan garam  dalam makanan yg diproses, kerjasama  dengan Departemen  Pertanian,  industri, dan perdagangan,  podusen susu, produsen  daging dan pembuat makanan.
  3. Mengurangi rokok : meningkatkan harga rokok dengan meningkatkan pajak tembakau, larangan iklan rokok, pendapatan dari pajak rokok dialihkan untuk promosi kesehatan dan pendidikan masyarakat tentang bahaya merokok.
  4. Meningkatkan  latihan fisik : meningkatkan sikap masyarakat dan perorangan serta  menyediakan fasilitas untuk mendorong masyarakat melakukan olah raga secara teratur.
  5. Mengurangi obesitas : mendorong promosi kesehatan perorangan dan atau masyarakat luas
  6. Mendorong inisiatif masyarakat : dalam mengubah gaya hidup masyarakat yang sehat dengan mengehentikan konsumsi rokok.
  7. Pelayanan medis : meningkatkan teknik pencegahan  termasuk skrining faktor risiko, manajemen hipertensi, dan memberikan nasehat tentang menurunkan faktor risiko dan manajemen stress.
  8. Skrining : menapis faktor risiko seperti diabetes, peningkatan lemak darah, dan hipertensi dan memberikan nasehat jika  ditemukan dan implikasinya kepada masyarakat.
  9. Rujukan : segera rujuk jika keadaan krisis untuk mengurangi risiko CFR.
  10. Reahabilitasi : meningkatkan pemulihan secara maksimal agar dapat beraktifitas kembali.

 

Penutup

  1. Prevalensi penyakit kardiovaskuler meningkat karena adanya perubahan gaya hidup masyarakat.
  2. Menurunkan prevalensi penyakit kardiovaskuler dengan menurunkan faktor risikonya
  3. Salah satu caranya dengan melakukan program promosi dan pencegahan penyakit
  4. Untuk keberhasilan program pencegahan memerlukan keterlibatan semua fihak