DOWNLOAD FILENYA DI : http://www.4shared.com/file/lK_XdqJ6/ESSAI_JUARA_1_ARINI_GHAISA_FK_.html

JUARA 1

Arini Ghaisa Atsari dari FK UNJANI

berikut adalah karyanya :

WACANA INDONESIA BEBAS RABIES TAHUN 2015

ESSAI ILMIAH

ARINI GHAISA ATSARI

4111081012

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

FAKULTAS KEDOKTERAN

2010

Wacana Indonesia Bebas Rabies Tahun 2015

Istilah rabies dikenal sejak zaman Babylon kira–kira abad ke-23 sebelum masehi (SM) dan Democritus menulis secara jelas bahwa binatang menderita rabies pada tahun 500 SM. Tulisan adanya infeksi rabies pada manusia dengan gejala hidrofobia dilaporkan pada abad pertama oleh Celcus dan gejala klinis rabies baru ditulis pada abad ke-16 oleh Fracastoro, seorang dokter Italia. Pada tahun 1880, Louis Pasteur mendemonstrasikan adanya infeksi pada susunan saraf pusat. Pengobatan dilakukan dengan cara kauterisasi sampai ditemukannya vaksin oleh Louis Pasteur pada tahun 1930 dan baru dapat diperlihatkan dengan mikroskop elektron pada tahun 1960. Rabies adalah penyakit infeksi akut susunan saraf pusat pada manusia dan mamalia yang berakibat fatal. Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies yang termasuk genus Lyssa-virus, famili Rhabdoviridae, dan menginfeksi manusia melalui sekret yang terinfeksi pada gigitan binatang.1

Penyebaran rabies tersebar di seluruh dunia dan hanya beberapa negara bebas rabies seperti Australia, Skandianvia, Inggris, Islandia, Yunani, Portugal, Uruguay, Chili, Papua Nugini, Selandia Baru, Jepang, dan Taiwan. Pada survey tahun 1999, 45 dari 145 negara dinyatakan tidak terdapat kasus rabies. Jumlah kematian di dunia karena penyakit rabies pada manusia diperkirakan lebih dari 50.000 orang tiap tahunnya dan terbanyak pada negara–negara di Asia dan Afrika yang merupakan daerah endemis rabies. Rabies banyak dijumpai di negara-negara Asia, diantaranya yaitu India, Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh, China, Filipina, dan Thailand. Sekarang, bagaimana dengan Indonesia? Menurut Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, dr., SpP(K), terdapat sembilan provinsi yang dinyatakan bebas rabies, yaitu Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, NTB, Papua Barat, dan Papua. Dengan kata lain, terdapat 24 provinsi di Indonesia yang masih belum bebas rabies. Sejak tahun 1997 sampai 2003 dilaporkan lebih dari 86.000 kasus gigitan binatang tersangka rabies rata-rata 124.000 kasus per tahun dan yang terbukti rabies adalah 538 orang atau 76 kasus per tahun. Kasus rabies di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Esser pada tahun 1884 pada seekor kerbau, kemudian oleh Penning pada tahun 1889 pada seekor anjing, dan oleh Eilerls de Zhaan pada tahun 1889 pada manusia. Semua kasus ini terjadi di Jawa Barat dan setelah itu rabies terus menyebar ke daerah Indonesia lainnya.1,2

Infeksi rabies biasanya terjadi melalui kontak dengan binatang seperti anjing, kucing, kera, serigala, kelelawar, dan ditularkan pada manusia melalui gigitan  binatang atau kontak virus dengan luka pada host atau melalui membran mukosa. Infeksi rabies pada manusia terjadi dengan masuknya virus melalui luka pada kulit (garukan, lecet, dan luka robek) atau mukosa. Cara infeksi lainnya yaitu melalui inhalasi pada orang yang mengunjungi gua kelelawar tanpa ada gigitan, kontak virus rabies pada kecelakaan kerja di laboratorium atau vaksinasi dari virus rabies yang masih hidup. Setelah virus rabies masuk ke tubuh manusia, selama dua minggu virus menetap pada tempat masuk dan di jaringan otot di dekatnya virus berkembang biak atau langsung mencapai ujung–ujung serabut saraf perifer tanpa menunjukkan perubahan-perubahan fungsinya. Selubung virus menjadi satu dengan membran plasma dan protein ribonukleus kemudian memasuki sitoplasma. Beberapa tempat pengikatan adalah reseptor asetilkolin postsinaptik pada neuromuscular junction di susunan saraf pusat. Dari saraf perifer virus menyebar secara sentripetal melalui endoneurium sel-sel Schwann dan melalui aliran aksoplasma mencapai ganglion dorsalis dalam waktu 60-72 jam dan berkembang biak. Selanjutnya virus menyebar dengan kecepatan 3 mm per jam ke susunan saraf pusat melalui cairan serebrospinal. Virus menyebar secara luas dan memperbanyak diri dalam semua bagian neuron, kemudian bergerak ke perifer dalam serabut saraf eferen dan pada saraf volunter maupun saraf otonom. Penyebaran selanjutnya dari SSP ke saraf perifer termasuk serabut saraf otonom, otot skeletal, otot jantung, kelenjar adrenal, ginjal, mata, dan pankreas. Pada tahap berikutnya, virus akan terdapat pada kelenjar ludah, kelenjar lakrimalis, dan sistem respirasi. Virus juga tersebar pada air susu dan urin.1,2

Apabila penyakit ini sudah menunjukkan gejala klinis pada hewan dan manusia, biasanya selalu diakhiri dengan kematian, sehingga menimbulkan rasa cemas dan takut bagi orang-orang yang terkena gigitan, kekhawatiran, dan keresahan bagi masyarakat pada umumnya. Gejala klinis terdiri dari tiga stadium, yaitu prodormal, neurologi akut, dan koma. Stadium prodormal berlangsung satu sampai empat hari dan biasanya tidak didapatkan gejala spesifik. Umumnya disertai gejala respirasi atau abdominal, misalnya ditandai oleh demam, menggigil, batuk, nyeri menelan, nyeri perut, sakit kepala, malaise, mialgia, mual, muntah, diare, dan nafsu makan menurun. Gejala yang lebih spesifik yaitu adanya gatal dan parastesia pada luka bekas gigitan yang sudah sembuh. Pada stadium neurologi akut, tanda–tanda klinis lain yang dapat dijumpai berupa hiperaktivitas, halusinasi, gangguan kepribadian, meningismus, lesi saraf kranialis, fasikulasi otot, gerakan–gerakan involunter, fluktuasi suhu badan, dan dilatasi pupil. Kematian paling sering terjadi pada stadium ini yang dapat terjadi akibat gagal nafas yang disebabkan oleh kontraksi hebat otot-otot pernafasan atau keterlibatan pusat pernafasan dan miokarditis, aritmia, serta henti jantung akibat stimulasi saraf vagus. Apabila tidak terjadi kematian, maka penderita akan memasuki stadium koma yang terjadi dalam sepuluh hari. Pada penderita yang tidak ditangani, penderita dapat meninggal setelah terjadi koma. Tindakan terhadap orang yang digigit atau korban yaitu segera cuci luka gigitan dengan air bersih dan sabun atau detergen selama lima sampai sepuluh menit kemudian bilas dengan air yang mengalir, lalu keringkan dengan kain bersih atau kertas tisu. Luka kemudian diberi obat luka yang tersedia, misalnya obat merah lalu dibalut longgar dengan pembalut yang bersih. Penderita atau korban secepatnya dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Tidak ada terapi untuk penderita yang sudah menunjukkan gejala rabies, penanganan hanya berupa tindakan suportif dalam penanganan gagal jantung dan gagal nafas. Walaupun tindakan perawatan intensif umumnya dilakakukan, tapi hasilnya tidak menggembirakan. Perawatan intensif hanyalah metode untuk menyelamatkan hidup pasien dengan mencegah komplikasi respirasi dan kardiovaskuler yang sering terjadi. Penderita rabies dapat diberikan obat-obat sedatif dan analgetik secara adekuat untuk memulihkan kekuatan dan nyeri yang terjadi. Pencegahan infeksi virus rabies pada penderita harus dilakukan perawatan luka yang adekuat atau pemberian vaksin anti rabies dan immunoglobulin.1,2

Tanda-tanda penyakit rabies pada hewan dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu bentuk diam atau dumb rabies dan bentuk ganas atau furious rabies. Tanda-tanda rabies bentuk diam adalah terjadi kelumpuhan pada seluruh bagian tubuh, hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan, air liur menetes berlebihan, serta tidak ada keinginan menyerang atau mengigit. Selanjutnya hewan akan mati dalam beberapa jam. Sedangkan tanda-tanda rabies bentuk ganas adalah hewan menjadi agresif dan tidak lagi mengenal pemiliknya, menyerang orang, hewan dan benda-benda yang bergerak, bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilipat diantara kedua paha belakangnya, anak anjing menjadi lebih lincah dan suka bermain, tetapi akan menggigit bila dipegang dan akan menjadi ganas dalam beberapa jam. Tindakan terhadap hewan yang menggigit anjing, kucing, dan kera yang menggigit manusia atau hewan lainnya harus dicurigai menderita rabies adalah bila hewan tersebut adalah hewan peliharaan atau ada pemiliknya, maka hewan tersebut harus ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi selama 14 hari. Bila hasil observasi negatif rabies, maka hewan tersebut harus mendapat vaksinasi rabies sebelum diserahkan kembali kepada pemiliknya. Bila hewan yang menggigit adalah hewan liar atau tidak ada pemiliknya, maka hewan tersebut harus diusahakan ditangkap hidup dan diserahkan kepada Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi dan setelah masa observasi selesai hewan tersebut dapat dimusnahkan atau dipelihara oleh orang yang berkenan, setelah terlebih dahulu diberi vaksinasi rabies. Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap dan terpaksa harus dibunuh, maka kepala hewan tersebut harus diambil dan segera diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Tindakan terhadap anjing, kucing, atau kera yang dipelihara adalah menempatkan hewan peliharaan dalam kandang yang baik, sesuai, dan senantiasa memperhatikan kebersihan kandang dan sekitarnya. Menjaga kesehatan hewan peliharaan dengan memberikan makanan yang baik, pemeliharaan yang baik, dan melaksanakan vaksinasi rabies secara teratur setiap tahun ke Dinas Peternakan atau dokter hewan.  Memasang rantai pada leher anjing bila anjing tidak dikandangkan atau sedang diajak berjalan-jalan.2,3

Mengingat akan bahayanya rabies terhadap kesehatan dan ketenteraman masyarakat karena dampak buruknya selalu diakhiri kematian, maka usaha pengendalian penyakit berupa pencegahan dan pemberantasan perlu dilaksanakan seintensif mungkin, bahkan menuju pada program pembebasan. Rabies merupakan penyakit lama yang hingga saat ini masih menjadi masalah bagi Indonesia. Rabies menjadi perhatian khusus di beberapa negara, karena memiliki angka mortalitas yang tinggi. Begitu juga di Indonesia, penyakit ini telah menjadi kejadian luar biasa (KLB) seperti di empat wilayah, antara lain Maluku, Kalimantan Barat, Banten, dan Bali.
Pemerintah sendiri mencanangkan Indonesia bebas rabies pada tahun 2015 nanti. Namun masih banyak kendala yang dihadapi untuk mencapai target tersebut. Pada awalnya, pemerintah mencanangkan Indonesia bebas Rabies pada tahun 2005, sayangnya ini tidak terwujud. Kenapa hal ini dapat terjadi? Lantas, apakah mungkin Indonesia dapat bebas rabies pada tahun 2015 nanti? Ini suatu permasalahan besar untuk pemerintah, Departemen Pertanian, Departmen Kesehatan, Instansi Kesehatan, dan seluruh masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa Kedokteran Indonesia.
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, dr., SpP(K) mengatakan untuk dapat mewujudkan Indonesia bebas rabies pada tahun 2015, maka harus dilakukan penanganan terhadap hewan penular rabies, menekan jumlah penderita rabies, dan mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB). Untuk itu diperlukan pengendalian secara terpadu, salah satunya dengan membuat rabies center di puskesmas atau rumah sakit yang diberikan fasilitas vaksin, penyuluhan, dan melindungi kelompok berisiko tinggi terkena virus rabies. Adanya rabies center diharapkan masyarakat mengetahui bahwa rabies ditularkan oleh gigitan hewan penular rabies, bahaya rabies yang bisa mengakibatkan kematian, pertolongan atau tindakan pertama apa yang harus dilakukan oleh masyarakat dan keluarga setelah digigit. Langkah-langkah terpadu yang bisa dilakukan dalam mewujudkan bebas rabies, antara lain:

  1. Program vaksin dan eliminasi hewan penular rabies
  2. Observasi hewan
  3. Pengawasan lalu lintas hewan penular rabies
  4. Penyuluhan
  5. Pendataan dan registrasi anjing
  6. Pengamatan dan penyidikan penyakit
  7. Penertiban dan pengawasan pemeliharaan binatang
  8. Peran serta masyarakat
  9. Tindakan terhadap hewan penular rabies serta kondisi penderita

Selain langkah-langkah tersebut, nantinya akan dibentuk tim koordinasi rabies di semua jenjang administrasi yang melibatkan bagian peternakan dari Departemen Pertanian, bagian Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) dari Departemen Kesehatan dan Departemen Dalam Negeri.

Pokok kegiatan yang seharusnya dilaksanakan oleh sektor peternakan, antara lain:

  1. Vaksinasi hewan yang dilaksanakan melalui vaksinasi masal (bulan rabies)
  2. Pengawasan lalu lintas hewan, melalui Perda yang mengacu kepada UU.No,6 1967 tentang Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan
  3. Eliminasi anjing-anjing liar atau tidak ada pemiliknya dengan melakukan pengamatan langsung di tempat–tempat persembunyian atau sarang-sarang anjing

Pokok-pokok yang seharusnya dilaksanakan oleh Sektor Kesehatan :

  1. Vaksinasi Anti Rabies pada kasus gigitan hewan tersangka rabies melalui pemberian Vaksinasi Anti Rabies (VAR) atau kombinasi Vaksinasi Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) di puskesmas dan rumah sakit
  2. Pencucian luka gigitan hewan-hewan tersangka rabies dengan sabun atau detergen lain untuk mengurangi masuknya kuman ke dalam tubuh
  3. Melaksanakan pengawasan lebih lanjut terhadap pengobatan melalui kunjungan petugas puskesmas ke tempat penderita
  4. Melakukan pelacakan kasus gigitan tambahan melalui penyelidikan epidemiologi, terutama daerah-daerah yang termasuk KLB
  5. Melakukan rujukan penderita rabies ke rumah sakit guna perawatan intensif

Rabies ini bisa dicegah dengan vaksin, tapi nantinya diharapkan terdapat vaksin yang dapat diberikan melalui makanan atau melalui oral, sehingga diharapkan semua masyarakat Indonesia terutama yang berisiko tinggi terkena virus rabies dapat terhindar dari penyakit ini. Bila seluruh pokok-pokok kegiatan tersebut dilaksanakan dengan penuh komitmen sejak diresmikan pada tahun 2005 dan diperlengkap oleh kesadaran individu mengenai epidemiologi, tanda, jejala, preventif, dan kuratif rabies oleh seluruh masyarakat, maka dapat menimalisasi jumlah penderita rabies yang semakin membuming dan akhirnya dapat terwujud “Indonesia Bebas Rabies Tahun 2005”. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan rabies merupakan prioritas kedua setelah flu burung H5N1 dalam kategori penyakit zoonosis. Angka terkena rabies di Indonesia sejak tahun 2005 cenderung di atas 100 orang setiap tahunnya dan paling banyak menyerang anak-anak usia lima sampai sembilan tahun. Maka jangan menganggap remeh penyakit rabies, karena jika tidak ditangani dengan baik tingkat kematiannya hampir mencapai 100 persen. Untuk itu mari saling bekerja sama dalam mewujudkan Indonesia bebas rabies pada tahun 2015.

DAFTAR PUSTAKA

1. Harijanto, N.P., Carta A. Gunawan. 2006. Rabies. Dalam: Sudoyo. A.W. Ed. Buku      Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed 4. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. 1714-1717.

2. Jackson, A.C., Eric C. Johannsen. 2008. Rabies and Other Rhabdovirus infections In: Harrison, T.R. Ed. Principles Of Internal Medicine. 17th ed. USA: The McGraw Hill. 1222-1226.

3. http://www.depkes.go.id/downloads/rabies.pdf