DOWNLOAD FILENYA DI : http://www.4shared.com/file/rAnTFhIX/JUARA_2_ESSAI_RIMA_FK_UGM.html

 

JUARA 2

Rima Mustafa dari FK UGM

Berikut adalah karyanya :

Jangan Berikan Darahmu Untuknya, Antara Realita dan Harapan

oleh

Rima Mustafa

Selama dekade terakhir, prevalensi malaria di dunia meningkat secara tajam. Peningkatan ini sudah mencapai tingkat yang perlu diwaspadai. Program eradikasi malaria global pada tahun 1950 dan 1960 mengalami kemunduran di awal tahun 1970. Penyakit ini meningkat pelan-pelan di wilayah Asia dan Amerika Selatan. Sebelumnya jumlah penyakit di tempat tersebut telah berkurang hingga level yang rendah. Hal ini membuka wacana bagi kita bahwa malaria merupakan penyakit global yang saat ini membutuhkan perhatian khusus. Di Indonesia sendiri, angka kesakitan malaria masih cukup tinggi, terutama di daerah Indonesia bagian timur.

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan karena infeksi protozoa yang berasal dari genus Plasmodium. Terdapat 4 spesies dari protozoa genus tersebut yang menyebabkan malaria pada manusia yakni Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, dan Plasmodium malariae. Masing-masing subspesies menyebabkan malaria dengan manifestasi klinis yang berbeda. Plasmodium falciparum nerupakan jenis yang menyebabkan malaria dengan tingkat kematian tertinggi karena dapat menyerang sel darah merah dalam segala usia serta menghasilkan parasitemia >106 per µl darah. Jumlah tersebut paling tinggi apabila dibandingkan dengan tiga spesies lainnya.

Demam merupakan gejala utama penyakit malaria. Manifestasi yang paling berat adalah cerebral malaria, anemia, serta disfungsi ginjal dan organ lain. Cerebral malaria terutama ditemukan pada anak-anak dan individu yang mengalami infeksi malaria untuk pertama kali. Sementara itu, anemia sering dijumpai pada anak-anak dan ibu hamil. Individu yang terpapar penyakit tersebut akan mencapai tingkat imunitas tertentu yang tidak stabil dan hilang dalam periode satu tahun setelah meninggalkan lingkungan endemis malaria. Imunitas akan muncul kembali setelah infeksi ulang apabila orang tersebut kembali ke lingkungan endemis malaria. Kebanyakan penderita yang meninggal karena malaria adalah individu yang mengalami infeksi malaria untuk pertama kali, terutama anak-anak atau individu yang sebelumnya berasal dari wilayah dimana tidak ada transmisi malaria atau individu dari negara yang lebih modern di mana tidak ditemukan penyakit tersebut.

Infeksi pada manusia dimulai dari masuknya sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk Anopheles betina ke dalam tubuh manusia. Sporozoit ini akan segera diangkut dengan cepat melalui aliran darah ke dalam hati, disini sporozoit menginvasi sel parenkim hati untuk memulai periode reproduksi aseksual, kemudian sporozoit bermultiplikasi dan berkembang menjadi skizont jaringan. Tahap ini disebut dengan fase pra-eritrosit. Sel hati akan membengkak dan pecah sehingga skizont melepaskan beribu-ribu merozoit yang akan masuk ke dalam sirkulasi darah dan menginvasi eritrosit. Lamanya fase intrahepatik ini bervariasi tergantung dari jenis spesies Plasmodiumnya. Khusus untuk Plasmodium ovale dan Plasmodium vivax, skizont jaringan pada sel parenkim hati dapat mengalami masa dorman dikenal juga dengan fase hipnozoit yang dapat berlangsung selama beberapa bulan, satu tahun, atau mungkin dapat lebih lama lagi. Inilah yang menyebabkan fenomena relaps pada dua spesies tersebut.

Merozoit menginvasi eritrosit dengan melekat melalui reseptor permukaan spesifik eritrosit. Merozoit di dalam eritrosit akan berkembang membentuk trofozoit. Selama stadium awal perkembangannya “bentuk cincin” yang kecil dari keempat spesies parasit tampak serupa di bawah mikroskop cahaya. Dengan membesarnya trofrita mozoit, karateristik spesifik-spesies menjadi semakin nyata, pigmennya semakin tampak jelas dan parasit tersebut mengambil bentuk ireguler atau amuboid. Trofozoit mengalami perkembangan menjadi skizont. Eritrosit yang mengandung skizont ini akan mengalami ruptur dan skizont akan melepaskan merozoit ke dalam sirkulasi, sementara sebagian merozoit ini akan menginvasi eritrosit kembali dan mengulang tahapan skizogoni intraeritrosit. Lepasnya merozoit dari eritrosit ini akan menimbulkan gejala yang khas, yaitu demam yang diikuti dengan menggigil yang terjadi secara periodik.

Sebagian merozoit mengalami diferensiasi membentuk gametosit (makrogamet dan mikrogamet). Gametosit ini nantinya masuk ke dalam tubuh nyamuk Anopheles apabila nyamuk ini menghisap darah dari penderita malaria. Nyamuk betina menggigit pasien yang menderita malaria. Darah yang dihisapnya mengandung gametosit Plasmodium yang selanjutnya melalui tahap perkembangan seksual di usus nyamuk. Hasil perkembangan di dalam tubuh nyamuk membentuk sporozoit yang akhirnya memasuki kelenjar ludah nyamuk. Nyamuk menularkan sporozoit dari jaringan ludahnya ketika menggigit orang yang sehat. Dengan memahami perjalanan perkembangan Plasmodium di dalam tubuh manusia dan nyamuk Anopheles, dapat kita simpulkan dengan jelas bahwa seorang individu tidak akan pernah menderita malaria apabila ia tidak digigit nyamuk Anopheles yang mengandung sporozoit dalam kelenjar ludahnya. Oleh karena itu, selain upaya pencegahan melalui obat anti malaria, strategi untuk mencegah penyakit ini adalah dengan memberantas atau menghindari gigitan nyamuk Anopheles.

Di dalam program pemberantasan malaria yang utama dilakukan adalah pemberantasan vektor. Agar mendapatkan hasil yang maksimal, perlu dukungan data penunjang yang menerangkan tentang seluk-beluk vektor yang berperan. Untuk menentukan metode pemberantasan yang tepat guna, perlu diketahui dengan pasti musim penularan serta perilaku vektor yg bersangkutan. Penentuan musim penularan yang tepat perlu didukung oleh data entomologi yang baik dan benar. Selain itu, metode yang dipilih harus sesuai dengan perilaku vektor yang menjadi sasaran. Dalam pemberantasan penyakit malaria sangat erat hubungannya dengan aspek entomologi. Dalam hal ini aspek entomologi menjadi tanggung jawab unit lain di luar unit pemberantasan malaria. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang maksimal diperlukan suatu koordinasi yang mantap, serta sinkronisasi program antara unit entomologi dengan unit pemberantasan malaria.

Dalam upaya memberantas larva atau nyamuk Anopheles, kita perlu memahami perilaku nyamuk. Perilaku mencari darah nyamuk dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu perilaku mencari darah yang ditinjau dari segi waktu, tempat, sumber darah, serta frekuensi menggigit. Apabila ditinjau dari segi waktu, nyamuk Anopheles pada umumnya aktif mencari darah pada waktu malam hari. Setiap spesies mempunyai sifat yang tertentu. Ada spesies yang aktif mulai senja hingga menjelang tengah malam dan sampai pagi hari.

Ditinjau dari segi tempat, penangkapan nyamuk dapat dilakukan di dalam atau di luar rumah. Berdasarkan hasil penangkapan tersebut, diketahui ada dua golongan nyamuk yaitu eksofagik dan endofagik. Tipe eksofagik lebih senang mencari darah di luar rumah, sementara tipe endofagik lebih senang mencari darah di dalam rumah. Berdasarkan macam darah yang disenangi, nyamuk dapat dibedakan menjadi tipe antropofilik dan zoofilik. Nyamuk termasuk tipe antropofilik apabila lebih senang menghisap darah manusia. Sementara itu, tipe zoofilik merupakan tipe nyamuk yang lebih senang menghisap darah binatang dan golongan yang tidak mempunyai pilihan tertentu.

Nyamuk betina biasanya hanya kawin satu kali selama hidupnya Untuk mempertahankan dan memperbanyak keturunannya, nyamuk betina hanya memerlukan darah untuk proses pertumbuhan telur. Setiap beberapa hari sekali, nyamuk akan mencari darah. Interval tersebut tergantung pada spesies serta dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban. Sesuai dengan iklim di Indonesia, waktu yang diperlukan antara 48-96 jam.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa strategi untuk mencegah penyakit ini adalah dengan memberantas atau menghindari gigitan nyamuk Anopheles. Dewasa ini, upaya pemberantasan penyakit malaria dilakukan melalui pemberantasan vektor penyebab malaria (nyamuk Anopheles). Pemberantasan malaria dilakukan dengan penyemprotan rumah dan lingkungan sekeliling rumah dengan racun serangga untuk membunuh larva nyamuk. Upaya ini juga bermanfaat untuk membunuh nyamuk dewasa.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membunuh larva nyamuk Anopheles. Secara garis besar, cara-cara tersebut dapat dibagi menjadi cara kimiawi dan hayati. Cara kimiawi dilakukan dengan menggunakan larvasida. Larvasida merupakan zat kimia yang dapat membunuh larva nyamuk. Beberapa contoh larvasida antara lain solar atau minyak tanah, parisgreen, temephos, fention, altosid, dan lain-lain. Selain zat-zat kimia yang disebutkan di atas dapat juga digunakan herbisida. Herbisida merupakan zat kimia yang mematikan tumbuh–tumbuhan air yang digunakan sebagai tempat berlindung larva nyamuk. Pemberantasan larva nyamuk Anopheles secara hayati dilakukan dengan mengunakan beberapa agent biologis seperti predator misalnya pemakan jentik seperti gambusia, guppy dan panchax (ikan kepala timah).

Selain cara kimiawi dan hayati untuk pencegahan malaria,  dapat juga dilakukan pengelolaan lingkungan hidup (environmental management) yang baik. Caranya adalah dengan pengubahan lingkungan hidup (environmental modification) sehingga larva nyamuk Anopheles tidak mungkin hidup. Kegiatan ini antara lain dapat berupa penimbunan tempat perindukan nyamuk, pengeringan dan pembuatan dam, selain itu kegiatan lain mencakup pengubahan kadar garam, pembersihan tanaman air atau lumut dan lain-lain.

Dalam rangka pencegahan malaria, upaya pemberantasan nyamuk Anopheles seperti yang telah diuraikan di atas dilanjutkan dengan melakukan pengobatan kepada mereka yang diduga menderita malaria. Pengobatan juga diberikan pada penderita malaria yang terbukti positif secara laboratorium.Selain itu, upaya pencegahan malaria dapat dilakukan dengan pemberian obat anti malaria. Akan tetapi, penerapan upaya pencegahan melalui obat anti malaria telah menimbulkan masalah baru di bidang kesehatan berupa resistensi parasit terhadap profilaksis yang diberikan. Efek ini menambah sederet permasalahan resistensi parasit akibat penggunaan obat. Tentunya ini bukan permasalahan yang mudah untuk ditangani karena resistensi menyebabkan terapi yang diberikan tidak memberikan hasil. Pada akhirnya, hal ini menuntut kita untuk menemukan obat baru sebagai terapi penyakit tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disusun beberapa upaya dalam rangka mencegah malaria. Beberapa upaya tersebut antara lain dengan menghindari keluar rumah pada sore atau malam hari. Apabila keluar rumah di malam hari, dianjurkan memakai celana panjang dan baju berlengan panjang dengan warna yang tidak gelap. Warna gelap akan mengundang datangnya nyamuk. Selain itu, disarankan untuk memilih tempat menginap yang dilengkapi pendingin (air conditioner), atau yang mempunyai kasa pelindung nyamuk. Bila tepat penginapan tidak dilengkapi pendingin dan tak memakai kasa pelindung nyamuk, diupayakan tidur dengan kelambu yang sebelumnya dicelup dalam larutan insektisida (permetrin). Selain itu, upaya lain adalah dengan memoleskan seperlunya repellent yang mengandung dimethyl phtalate atau N,N dietyltoluamide (DEET) pada bagian-bagian badan yang terbuka, serta memakai insektisida dalam bentuk semprot (spray), dispenser (memakai baterai atau listrik) atau dibakar untuk menghalau nyamuk.

Strategi tersebut telah sering didengar dan diketahui oleh banyak orang. Akan tetapi, realita menunjukkan bahwa strategi ini belum banyak diterapkan dalam masyarakat. Paradigma masyarakat seringkali mengatakan bahwa tidak masalah terkena suatu penyakit karena dokter akan dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Masyarakat belum mengetahui seberapa besar masalah terkait malaria yang kini ada di Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur. Oleh karena itu, perlu kita informasikan kepada masyarakat tentang hal ini. Selain itu, poin penting yang perlu kita lakukan adalah menanamkan kembali bahwa cara pencegahan di atas bukan cara yang sulit dilakukan, artinya ini dapat diterapkan apabila kita memang berniat menerapkannya.

Seperti yang telah disampaikan oleh Leavel dan Clark dalam prinsip Five Level of Prevention, tugas dokter bukan hanya mengobati pasien yang sudah terlanjur sakit, tetapi juga mencegah agar seseorang tidak terkena penyakit tersebut. Edukasi tentang upaya pencegahan ini di akhir kunjungan pasien setidaknya dapat mengingatkan pasien untuk menerapkan kembali upaya pencegahan yang sebelumnya mungkin telah diketahui oleh mereka. Optimalisasi upaya pencegahan penyakit malaria dengan menghindari gigitan nyamuk diharapkan dapat membawa perubahan terhadap realita masalah malaria yang ada di Indonesia. Lebih jauh lagi, strategi ini dapat dikembangkan untuk membantu mengatasi masalah malaria di dunia. Sekali lagi, jangan berikan darahmu untuk nyamuk karena kita tidak tahu apa yang dimasukkannya saat menghisap darah kita!