DOWNLOAD FILE NYA DI : http://www.4shared.com/file/2B4__XMz/JUARA_3_PMC_GALIH_FK_UII.html

JUARA 3

Galih dari FK UII

Berikut adalah hasil karyanya :

KARAKTERISTIK PENDIAGNOSAAN PASIEN CURIGA TUBERKULOSIS PADA PELAYANAN KESEHATAN PRIMER

Proposal Penelitian Multi Center

Diajukan oleh:

Galih Wisnu Prabowo   (07711075)

Risky Triutami Sukarno (07711116)

Astri Sulastri Prasasti    (08711213)

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Badan Analisis dan Pengembangan Ilmiah Nasional – Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (BAPIN-ISMKI)
2010

Halaman Pengesahan

KARAKTERISTIK PENDIAGNOSAAN PASIEN CURIGA TUBERKULOSIS PADA PELAYANAN KESEHATAN PRIMER

Oleh:

Galih Wisnu Prabowo     (07711075)

Risky Triutami Sukarno   (07711116)

Astri Sulastri Prasasti      (08711213)

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Ketua Tim Peneliti                                                    Kepala Departemen Ilmiah FK UII

Galih Wisnu Prabowo                                              Proginova Dian Yudhatama

Telah diterima dan disetujui

Pembimbing

dr. Torana Kurniawan

Disahkan

Dekan Fakultas Kedokteran UII

dr. Isnatin Miladiyah, M.Kes

PERNYATAAN

Dengan ini Kami menyatakan bahwa dalam Karya Tulis ILmiah ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar, dan sepanjang pengetahuan kami juga tidak ada  terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pusataka.

Yogyakarta , 18 Juni 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………………………..….i

Lembar Persetujuan……………………………………………………………………….ii

Pernyataan……………………………………………………………………………….iii

Daftar Isi…………………………………………………………………………………iv

Daftar Gambar …………………………………………………………………………..v

Kata Pengantar…………………………………………………………………………..vi

BAB I.                        Pendahuluan ……………………………………………………………..1

1.1  Latar Belakang Masalah ……………………………………………..1

1.2  Perumusan Masalah ………………………………………………….2

1.3  Tujuan Penelitian ……………………………………………………..3

1.4  Manfaat Penelitian ……………………………………………………3

1.5  Keaslian Penelitian …………………………………………………..4

BAB II                        Tinjauan Pustaka…………………………………………………….…..5

2.1 Landasan Teori………………………………………………………5

2.2 Kerangka Teori……………………………………………………..12

2.3 Kerangka Konsep ………………………………………………….12

BAB III          Metode Penelitian ………………………………………………………13

3.1 Rancangan Pene;itian ……………………………………………….13

3.2 Populasi dan Sampel ……………………………………………….13

3.3 Cara Pengumpulan Data ……………………………………………14

3.4 Instrumen penelitian ………………………………………………..14

3.4 Tahap Penelitian ……………………………………………………15

3.5 Rencana Analisis Data ……………………………………………..15

BAB IV          Anggaran Biaya Penelitian ……………………………………………..16

Daftar Pustaka ………………………………………………………………………….17

Lampiran ………………………………………………………………….…………….18

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Alur diagnosis tuberkulosis paru pada orang dewasa………………….……..9

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.wb

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan dan membuat Proposal Penelitian berjudul Karakteristik Pendiagnosaan Pasien Curiga Tuberculosis yang disusun untuk mengikuti Lomba dalam acara Temu Ilmiah Nasional (TEMILNAS) 2010. Di dalam pelaksanaan dan penyusunan Proposal ini tidak lepas dari bimbingan, dorongan, dan bantuan baik moril dari berbagai pihak kepada ppenyusun. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebanyak-banyaknya kepada :

  1. Allah SWT. Segala puja dan puji syukur penulis haturkan, atas karunia dan kasih sayangNya sehingga penulis masih diberi kekuatan, kemampuan dan kesempatan untuk menyelesaikan kegiatan Proposal ini dengan baik.
  2. dr. Isnatin Miladiyah M.Kes selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia atas semua bantuan dan dorongannya.
  3. dr. Torana kurniawan selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing kami mulai dari perencanaan program sampai penyelesaian laporan proposal ini.
  4. DPM dan LEM FK UII selaku lembaga kemahasiswaan yang telah membantu dalam pentransormasian teknis dan mendukung kami hingga dapat terselesaikannya proposal ini serta
  1. Semua pihak yang telah ikut membantu kesuksesan penyusunan Proposal yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Proposal tersebut, terdapat banyak kekurangan dan kekhilafan, untuk itu penyusun mohon maaf  yang sebesar-besarnya. Semoga dengan segala kekurangan dan jauh dari kata sempurna dari apa yang telah penulis kerjakan dari penyusunan Proposal ini dapat bemanfaat.

Wassalamualaikum Wr.wb.

Jogjakarta,   Juni 2010

(Penyusun)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat (Departemen Kesehatan [DepKes], 2006).

Situasi TB didunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan, terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993, WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani (Widoyono, 2008)

Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina, dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Penyakit ini menyerang semua golongan umur dan jenis kelamin, serta mulai merambah tidak hanya pada golongan sosial ekonomi rendah saja. Profil kesehatan Indonesia 2002 menggambarkan persentase penderita TB terbesar adalah usia 25-34 tahun (23,67%), diikuti 35-44 tahun (20,46%), 15-24 tahun (18,08%), 45-54 tahun (12,32%), lebih dari 65 tahun (6,68%), dan yang terendah adalah 0-14 tahun (1,31%).

Di Yogyakarta tidak ada satu desa/kelurahan pun yang bebas dari TB. Berdasarkan data dari lembaga Komite DOTS HDL Project in Jogjakarta tahun 2004, menyatakan bahwa ditemukan 4.000 kasus penderita baru setiap tahun yang membawa akibat 960 kasus kematian. Dari jumlah tersebut 78 % menyerang usia produktif (15-55 tahun) dan hanya sepertiga kasus yang tertangani.

Dinas Kesehatan provinsi Yogyakarta (2008), melaporkan jumlah kasus TB Paru yang positif pada tahun 2007 menurun dibanding tahun 2006. Namun, penyakit tuberculosis ini berpotensi besar menjadi re-emerging disease. Permasalahannya adalah penemuan penderita yang masih rendah. Pada tahun 2008, Tercatat 6.154 penderita TB paru yang berhasil dideteksi secara klinis suspek TB. Namun hanya 1.942 penderita dinyatakan positif menderita TB, berdasarkan pemeriksaan laboratorium 1.157 dan foto rontgen 785. Keadaan ini menandakan adanya problem dalam penegakkan diagnosis.

Sebenarnya Depkes sudah membuat algoritma diagnosis untuk pasien curiga TB. Diagnosis TB Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan pemeriksaan dahak. Pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis hasil dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS  ditemukan BTA hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang. Kalau hasil rontgen mendukung TBC, maka penderita didiagnosis sebagai penderita TBC BTA positif.

Kesalahan pada penegakkan diagnosis TB bisa berakibat overdiagnosis atau underdiagnosis, sehingga pasien tidak akan mendapat penanganan yang sesuai. Underdiagnosis menyebabkan tidak terdeteksinya penyakit TB pada orang yang sudah terinfeksi, sehingga memudahkan penularan ke orang lain karena penyakit tidak diobati. WHO (1996) melaporkan pasien TB yang tidak mendapat pengobatan yang sesuai setelah 5 tahun, 50% dari penderita TB akan meninggal, 25% sebagai kasus kronik yang sangat menular, sisanya akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi. Permasalahan lain adalah overdiagnosis, yaitu ketika pasien yang sebenarnya tidak mempunyai penyakit TB namun didiagnosis TB, sehingga diberikan terapi obat anti tuberculosis yang dapat menyebabkan berbagai efek samping. Widoyono (2008) melaporkan efek samping yang bisa terjadi seperti hepatotoksik, neuropati, dan nefrotoksik.

Dokter umum pada pelayanan kesehatan primer merupakan salah satu kunci dari penegakan diagnosis TB. Oleh karena itu dokter umum diharapkan mempunyai kompetensi untuk menemukan kasus-kasus TB melalui proses penegakan diagnosis seperti yang sudah tertulis pada standar pelayanan medis. Sampai sekarang karakteristik dari pendiagnosaan TB yang dilakukan oleh dokter di pelayanan kesehatan primer belum diketahui, apakah sudah sesuai dengan standar diagnosis atau belum, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik pendiagnosaan pasien curiga TB oleh dokter umum pada unit pelayanan kesehatan primer.

1.2 Perumusan Masalah

Atas dasar permasalahan diagnosis diatas timbul pertanyaan yaitu :

  1. Bagaimana karakteristik pendiagnosaan pasien curiga TB pada pelayanan kesehatan primer?
  2. Apakah karakteristik tersebut sudah sesuai standard diagnosis TB

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui karakteristik pendiagnosaan pasien curiga TB pada pelayanan kesehatan primer.

1.4 Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini, maka diharapkan dapat memberikan informasi mengenai karakteristik penegakan diagnosis TB oleh dokter umum pada pelayanan kesehatan primer. Informasi tersebut bisa digunakan untuk evaluasi dari penerapan standar penegakan diagnosis TB, ataupun sebagai penelitian awal untuk mendukung penelitian-penelitian selanjutnya mengenai penegakan diagnosis TB.

1.5 Keaslian Penelitian

Sampai penelitian ini dilakukan, dari banyak penelitian terhadap penyakit TB, belum ada yang meneliti tentang karakteristik pendiagnosaan pasien curiga TB pada pelayanan kesehatan primer.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

a. Definisi

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis kompleks (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2002). Sutikno (2004) juga menyebutkan bahwa penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang mengenai parenkim paru, disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes, 2006).

b. Epidemiologi

Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat (Depkes, 2006).

Pada tahun 2004, WHO  menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru Tuberkulosis pada tahun 2002, dimana 3,9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman Tuberculosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus TB di dunia, namun bila dilihat dari jumlah pendduduk terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk. Di Afrika hampir 2 kali lebih besar dari Asia tenggara yaitu 350 per 100.000 pendduduk. Diperkirakan angka kematian akibat TB adalah 8000 setiap hari dan 2 – 3 juta setiap tahun. Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan bahwa jumlah terbesar kematian akibat TB terdapat di Asia tenggara yaitu 625.000 orang atau angka mortalitas sebesar 39 orang per 100.000 penduduk. Angka mortalitas tertinggi terdapat di Afrika yaitu 83 per 100.000 penduduk, dimana prevalensi HIV yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan cepat kasus TB yang muncul.

Jumlah  pasien Tb di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien Tb di dunia (Depkes, 2006). Penyakit ini menyerang semua golongan umur dan jenis kelamin, serta mulai merambah tidak hanya pada golongan sosial ekonomi rendah saja. Profil kesehatan Indonesia 2002 menggambarkan persentase penderita TB terbesar adalah usia 25-34 tahun (23,67%), diikuti 35-44 tahun (20,46%), 15-24 tahun (18,08%), 45-54 tahun (12,32%), lebih dari 65 tahun (6,68%), dan yang terendah adalah 0-14 tahun (1,31%).Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk. Data ini juga diperkuat oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2002), Indonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India dan China. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar 140.000 kematian akibat TB. Di Indonesia tuberkulosis adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia.

Di Yogyakarta sendiri, pada periode Juli sampai dengan Desember 2004 terdapat 470 kasus tuberkulosis yang tercatat di register tuberkulosis Kota Yogya (Chrysantina, et al.,2004). Tidak ada satu desa/kelurahan pun yang bebas dari TB. Berdasarkan data dari lembaga Komite DOTS HDL Project in Jogjakarta tahun 2004, menyatakan bahwa ditemukan 4.000 kasus penderita baru setiap tahun yang membawa akibat 960 kasus kematian. Dari jumlah tersebut 78 % menyerang usia produktif (15-55 tahun) dan hanya sepertiga kasus yang tertangani. Dinas Kesehatan provinsi Yogyakarta (2008), melaporkan jumlah kasus TB Paru yang positif pada tahun 2007 menurun dibanding tahun 2006. Namun, penyakit tuberculosis ini berpotensi besar menjadi re-emerging disease. Permasalahannya adalah penemuan penderita yang masih rendah. Pada tahun 2008, Tercatat 6.154 penderita TB paru yang berhasil dideteksi secara klinis suspek TB. Namun hanya 1.942 penderita dinyatakan positif menderita TB, berdasarkan pemeriksaan laboratorium 1.157 dan foto rontgen 785. Keadaan ini menandakan adanya problem dalam penegakkan diagnosis.

c. Faktor Resiko

Risiko terinfeksi TB sebagian besar adalah faktor risiko eksternal, terutama adalah faktor lingkungan seperti rumah tidak sehat, pemukiman padat dan kumuh.  Sedangkan risiko menjadi sakit TB, sebagian besar adalah faktor internal dalam tubuh penderita sendiri  yang disebabkan oleh terganggunya sistem kekebalan dalam tubuh penderita seperti kurang gizi, infeksi HIV/AIDS, pengobatan dengan immunosupresan dan lain sebagainya.

Depkes (2006) menyebutkan tentang faktor resiko menderita TB sebagai berikut :

–          Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB

–          Dengan arti 1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif.

–          Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).

–          HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat  bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti Tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik pada tahun 2005 juga menyebutkan, kemungkinan untuk terinfeksi TB, tergantung pada :

  • Kepadatan droplet nuclei yang infeksius per volume udara
  • Lamanya kontak dengan droplet nuklei
  • Kedekatan dengan penderita TB

d. Klasifikasi

Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik (2005) mengklasifikasikan Tb berdasarkan tempat/organ yang diserang oleh kuman, maka tuberkulosis dibedakan menjadi Tuberkulosis Paru, Tuberkulosis Ekstra Paru.

Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan parenchym paru, tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi dalam:

  1. Tuberkulosis Paru BTA Positif.

Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.

  1. Tuberkulosis Paru BTA Negatif

Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. TB Paru BTA Negatif Rontgen Positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto rontgen dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced” atau millier), dan/atau keadaan umum penderita buruk.

Tuberkulosis ekstra paru adalah Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, dan alat kelamin. TB ekstra paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:

  1. TB Ekstra Paru Ringan Misalnya: TB kelenjar limphe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
  2. TB Ekstra-Paru Berat Misalnya: meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa duplex, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat kelamin.

Sedangkan berdasarkan riwayat pengobatan, penderita dapat digolongkan atas tipe:

–          Kasus baru

Penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian).

–          Kambuh (Relaps)

Penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.

–          Pindahan (Transfer In)

Penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahan tersebut harus membawa surat rujukan / pindah (Form TB. 09).

–          Lalai (Pengobatan setelah default/drop-out)

Penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang kembali berobat. Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.

–          Gagal

Penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke 5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau lebih; atau penderita dengan hasil BTA negatif Rontgen positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke 2 pengobatan.

–          Kronis

Penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2.

e. Dianosis

Gambar 1. Alur diagnosis tuberkulosis paru pada orang dewasa (Depkes, 2006)

Diagnosis TB Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang. Kalau hasil rontgen mendukung TBC, maka penderita didiagnosis sebagai penderita TBC BTA positif.

Kalau hasil rontgen tidak mendukung TBC maka pemeriksaan dahak SPS diulangi. Apabila fasilitas memungkinkan maka dilakukan pemeriksaan lain misalnya biakan. Bila ketiga spemen dahak hasilnya negatif diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1-2 minggu bila tida ada perubahan namun gejala klinis tetap mencurigakan TBC ulangi pemeriksaan dahak SPS. Kalau hasil SPS positif diagnosis sebagai penderita TBC BTA positif. Kalau hasil SPS tetap negatif lakukan pemeriksaan foto rontgen dada untuk mendukung diagnosis TBC. Bila hasil rontgen mendukung TBC didiagnosis sebagai penderita TBC BTA negatif rontgen positif. Bila hasil rantgen tidak di dukung TBC penderita tersebut bukan TBC. UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen penderita dapat dirujuk untuk foto rontgen dada (Depkes, 2006).

2.2 Kerangka Teori

2.3 Kerangka konsep

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada pusat pelayanan primer kesehatan atau Puskesmas yang terdapat di setiap center. Di Yogyakarta sendiri, penelitian bertempat di 5 tempat pelayanan primer kesehatan pada setiap kabupaten yang dipilih berdasarkan kesesuaian populasi dan sampel sumber data. Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 September 2010 dilakukan serempak pada setiap tempat disetiap kabupatennya. Untuk center lain tempat, jumlah dan waktu penelitian disesuaikan dengn kondisi dan situasi pada masing-masing center.

3.2 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Desain penelitian ini dipilih karena permasalahan yang akan diteliti bersifat dinamis dan kompleks. Penelitian kualitatif sendiri dapat diartikan metode penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran), dimana peneliti adalah instrumen kunci, analisis data bersifat deskriptif.

3.3 Definisi Operasional

Dokter Umum : Seseorang yang berprofesi sebagai dokter, lulus dari pendidikan kedokteran dan memiliki ilmu dalam bidang penyakit dan obat-obatan dan belum menambil spesialisasi dalam bidang tertentu.

Pelayanann Kesehatan Primer/Puskesmas: Puskesmas merupakan kependekan dari Pusat Kesehatan Masyarakat; polikilinik tingkat awal yang didirikan di setiap kecamatan untuk melayani rakyat umum serta tempat memberikan penyuluhan dan membantu memberikan pelayanan tertentu.

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah:

  1. Petugas medis dalam hal ini adalah dokter umum yang bertugas pada  pelayanan kesehatan primer di Yogyakarta.

Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data yang sudah terancang tujuannya dan rencananya dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan untuk sampel dari dokter umum pada pelayanan kesehatan primer adalah:

  1. Dokter umum yang memahami alur pendiagnosisan tuberkulosis sesuai dengan standar yang diberlakukan oleh Departemen Kesehatan RI.
  2. Dokter umum yang telah bertugas minimal 1 tahun pada pelayanan kesehatan primer di Yogyakarta.
  3. Dokter umum yang pernah menangani kasus curiga tuberkulosis.

Di Propinsi D.I. Yogyakarta peneliti merencanakan sampel yang diambil sebanyak 25 orang. Perinciannya adalah 5 orang untuk setiap Kabupaten (Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunung Kidul, dan Kotamadya DIY). Terhadap daerah lain, jumlah sampel disesuaikan sejumlah 5 sampel disetiap Kabupaten.

3.5 Instrumen Penelitian

Peneliti sendiri (human instrument) yang berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya. Dan data wawancara berupa pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada informan yang sudah ditetapkan. Selain data wawancara ada beberapa alat pendukung dalam penelitian kualitatif untuk mengumpulkan data diantaranya adalah alat tulis dan alat perekan suara (tape recorder) sehingga percakapan yang dilakukan dapat direkam sebagai dokumentasi.

3.6 Cara Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap setiap informan dengan bentuk wawancara semiterstruktur (semistructure interview). Wawancara adalah suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden) dan atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (Notoatmodjo, 2005).

Sedangkan wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan wawancara semiterstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan yang akan diajukan. Pertanyaan disusun dengan rapi dan ketat. Format wawancara dapat bermacam-macam, pertanyaan disusun sebelumnya dan didasarkan atas masalah dalam rancangan penelitian. Namun pada prakteknya, tanya jawab mengalir seperti dalam percakapan sehari-hari. Hal ini disebabkan tujuan wawancara ini mengungkap maksud dan penjelasan dari responden atau mencoba mengungkapkan pengertian suatu peristiwa, situasi atau keadaan tertentu (Moleong, 2006).

Adapun tahapan atau alur penelitian yang dilakukan antara lain :

3.6.1. Persiapan

Peneliti melakukan penyusunan proposal penelitian, melakukan revisi, dan mengurus surat izin penelitian di Fakultas atau center masing-masing dan di tempat penelitian.

3.6.2. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan di tempat pelayanan kesehatan primer  untuk center Yogyakarta akan dilakukan pada tanggal 20 September 2010 pada pukul 13.00-15.00 WIB, untuk setiap center waktu dan tempat disesuaikan sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing.

3.7 Rencana Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah metode untuk data kualitatif. Menurut Bodgan dan Biklen, analisis untuk data kualitatif merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari serta memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2006).

BAB IV

ANGGARAN BIAYA PENELITIAN*

NO DAFTAR KELENGKAPAN HARGA PER UNIT JUMLAH YANG DIBUTUHKAN TOTAL
1 Form pertanyaan wawancara Rp. 100,00 50 Rp. 5.000,00
2 Form perizinan wawancara Rp. 100,00 50 Rp. 5.000,00
3 Fee surveyor Rp. 50.000,00 25 Rp. 1.250.000,00
4 Transportasi Rp. 10.000,00 25 Rp. 250.000,00
5 Kenangan untuk responden Rp. 50.000,00 25 Rp.  1.250.000,00
6 Dokumentasi Rp. 10.000,00 25 Rp. 250.000,00
7 Kondisional (termasuk keperluan yang dibutuhkan selama menganalisis data) Rp. 500.000,00
TOTAL Rp. 3.510.000,00

*Anggaran biaya penelitian diatas disesuaikan dengan jumlah sampel penelitian yang ada di Yogyakarta, untuk center lain disesuaikan dengan kondisi dan situasi pada center terkait.

DAFTAR PUSTAKA

Deparetemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta.

Dinas Kesehatan Provinsi DIY. 2007. Profil Kesehatan Provinsi DIY tahun 2007, Yogyakarta.

Dinas Kesehatan Provinsi DIY. 2008. Profil Kesehatan Provinsi DIY tahun 2008, Yogyakarta.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2002. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta.

Eddy W., 2004. Upaya Penigkatan Peran Masyarakat dan Tenaga Kesehatan dalam Pemberantasan Tuberkulosis. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Widoyono. 2008. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan & Pemberantasannya. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Lampiran

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA UNTUK DOKTER UMUM

Nama responden         :…………………….

Umur                           :…………………….

Alamat                                    :…………………….

Jabatan                                    :…………………….

Institusi                                   :……………………

  1. Sudah berapa lama Anda bekerja sebagai dokter di Puskesmas ini?
  2. Selama Anda bertugas, sudah pernahkah Anda menangani kasus TB? Bila pernah, seberapa sering Anda menemui kasus tersebut?
  3. Dari kasus-kasus TB yang Anda temui, apakah Anda sering menemui kasus-kasus baru TB yang Anda tegakkan diagnosisnya?

Bagaimana dengan kasus-kasus TB lama? Apakah Anda juga sering menanganinya? Ceritakan

  1. Seperti apa protap penegakan diagnosis TB yang diterapkan pada institusi Anda? Ceritakan
  2. Apakah Anda selalu memakai protap tersebut, bila menemui kasus curiga TB? Atau ada kalanya protab tersebut tidak bisa diterapkan karena suatu alasan tertentu? Bila ada, apa alasan-alasan tersebut?
  3. Adakah hambatan/kesulitan dalam menerapkan protab-protab tersebut di lingkungan institusi Anda?
  4. Menurut Anda, apa saja faktor-faktor yang bisa menyebabkan kesulitan tersebut?
  5. Bagaimana solusi yang Anda tawarkan untuk mengatasi permasalahan ini?