Dr.Yasmar Alfa Sp AK

Bagian I  .Kesehatan Anak FK/Unjani

Pendahuluan

Penyakit jantung pada anak dapat dibagi menjadi 2 golongan :

–         Penyakit jantung bawaan ( PJB )

–         Penyakit jantung didapat

Penyakit jantung bawaan adalah kelainan jantung yang terjadi sejak bayi lahir , sedangkan penyakit jantung didapat adalah penyakit jantung yang terjadi setelah lahir. Penyakit jantung bawaan dapat dibagi menjadi 2 tipe :

–         PJB tipe nonsianotik

–         PJB tipe sianotik

PJB nonsianotik merupakan 75 % dari semua kasus penyakit jantung yang terjadi pada anak dan PJB sianotik 25% kasus.

PJB non sianotik terdiridari 3 kelompok :

1.Terjadi aliran darah dari kiri kekanan pada :

– Paten duktus arteriosus ( PDA )

– Ventrikel septal defek ( VSD )

– Atrial septal defek (ASD )

2.Terjadi obstruksi jantung kanan pada :

-Stenosis  katup pulmonal

3.Terjadi obstruksi jantung kiri pada

-Stenosis katup aorta

-Koartasio aorta

-Stenosis katup mitral

PJB sianotikterjdi aliran darah dari kanan kekiri :

-Tetralogi Fallot ( TF )

-Tranposisi arteri besar

Diagnosa PJB dapat ditegakkan berdasarkan :

-Gejala klinis

-Pemeriksaan EKG , foto torak .

-Echocarduiografi

-Kateterisasi jantung

PJB NONSIANOTIK

VENTRIKEL SEPTAL DEFEK ( VSD )

Merupakan penyakit jantung bawaan ynga paling sering terjadi , insidennya 20% dari semua PJB .

Gejala klinis .

Gejelaklinis tergantung dari besar kecilnya defek yang terjadi :

-VSD kecil

Anak tampak sehat , pertumbuhan normal , pada pemeriksaan fisik terdengar bising sistolik dan thrill pada sternum kiri bawah.

-VSD sedang

Anak terlihat gangguan pertumbuhan berat badan kurang dan pada auskultasi terdengar diastolik

-VSD besar

Anak trelihat takipneu dan pada auskultasi terdengar P2 keras dan bising sistolik.

Diagnosa VSD

Diagnosa dibuat berdasarkan :

-Gejala klinik

-EKG terdapat hipertropi ventrikel kiri

-Pada echokardiografi dapat ditentukan lokalisasi dan besarnya defek.

Tatalaksana : -medikamentosa bila terjadi gagal jantung

-operatif.

DUKTUS ARTERIOSUS PERSISTEN ( DAP )

Duktus arteriosus persisten adalah terdapatnya pembuluh darah fetal yang menghubungkan percabangan arteri pulmonalis sebelah kiri ke aorta desendenstepat disebelh distalarteri subklavia kiri.DAP sering ditemukan tanpa disertai dengan kelainan jantung bawaan lain tetapi dapat juga ditemukan bersamaan dengan kelainan jantung bawaan lainnya seperti atresia katup pulmonal, atresia katuo trikuspidalis.

Insiden

DAP sering ditemukan pada bayi prematur dengan berat badan lahir rendah , DAP terjadi 5-10 % dari seluruh penyakit jantung bawaan. Duktus arteriosus menutup secara fungsional pada usia 10-15 jam setelah lahir dan penutupan permanen akan terjadi pada usia 2-3 minggu.

Gejala klinik

Pada bayi prematur terdengar bising sistolik pada tepi kiri sternum sela iga 2-3 yang terdengar saat usia 24-72 jam.

Pada bayi prematur yang menderita DAP terjadi gangguan distribusi aliran darah sistemik akibatnya organ-organ tubuh kekurangan aliran darah seperti keotak dan saluran cerna.

Diagnosa dibuat dengan pemeriksaan echokardiografi.

Tata laksana medikamentosa atau operatif.

ATRIAL SEPTAL DEFEK ( ASD )

ASD adalah terjadinya defek pada sekat yang memisahkan atrium kiri da kanan.

ASD diklasifikan menjadi :

-ASD sederhana dengan defek pada septum dan sekitar fossa ovalis.

-ASD komplek yang dikenal sebagai defek atrioventrikular.

Angka kejadian ASD kira-kira 8% dari seluruh penyakit jantung bawaan

Pada ASD sederhana sering bersifat asimptomatik , bayi dapat tumbuh normal ,terjadi aliran darah dari kiri kekanan

Pada auskultasi ditemukan bising sistolik.

Diagnosa dapat ditegakkan dengan pemeriksaan EKG dan Echokardiografi.

Tatalaksana tindakan operatif.

STENOSIS PULMONAL

Stenosis pulmonal insidennya sekitat 8% dari semua kelainan jantung bawaan. Pada stenosis yang berat penderita akan meninggal karena gagal jantung, sedangkan

Dalam bentuk ringan bersifat asimtomatis dan penderita dapat hidup normal.

Pada pemeriksaan klinis auskultasi akan terdengar sistolik ejeksi pada ke 2 kiri dan terdengar paling keras saat ekspirasi, bunyi jantung kedua terdengar terpecah ( split ).

Diagnosa

Diagnosa dapat ditegeakkan berdasarkan :

–         Foto torak

–         EKG

–         Echokardiografi

Tatalaksana :

Pada kasus ringan tidak perlu tindakan operasi , sedangkan pada kasus yang berat segera lakukan tindakan operatif segera setelah diagnosa ditegakkan.

STENOSIS AORTA

Stenosis katup aorta merupakan sekitar 5% dari semua PJB , empat kali lebih banyak pada bayi laki-laki dibandingkan perempuan .Dapat ditemukan bersamaan dengan kelainan lain seperti koartasio aorta.

Gejala klinik

Stenosis aorta berat dapat ditemukan pada masa bayi dan dapat menyebabkan gagal jantung dan kematian mendadak

Pada anak besar dan ringan anak tampak sehat , kadang-

kadang gejala hanya ditemukan adanya bising jantung pada

pemeriksaan rutin.

–         EKG

–         Echokardiografi

Tatalaksana:

Operatif dan mdikamentosa.

KOARTASIO AORTA

Koartasio aorta terjadi pada 6% kasus PJB ialah terjadinya konstriksi pada tempat duktus bermuara pada aorta. Lebih dari setengah kasus disertai dengan kelainan lain yang paling sering menyertainya adalah VSD, kelainan katu kitral dan stenosis aorta

Gejala klinis

Pada masa neonatus , bayi lahir dalm keadaan baik tetapi dalam beberapa hari memburuk antara hari ke2 sp 10 , hal ini berhubungan dengan menutupnya duktus arteriosus. Tiba-atiba bayi taidak bisa minum dan sesak nafas dan perfusi perifer menurun, nadi brakialis teraba tapi nadi femoralis sangat lemah dan bahkan tidak teraba. Tekanan darah ekstrimitas atas lebih tinggi dari ektrimitas bawah. Oleh sebab itu bayi yang dicurigai PJB harus diperiksa palpasi nadi brakialis dan femoralis.

Diagnosa

Diagnosa ditegakkan berdasarkan

–         Foto torak terlohat pembesaran jantungyang menyeluruh dan terdapat kongesti v.pulmonalis.

–         EKG terlihat hipertropi ventrikel kanan yang jelas.

Tatalaksana

–         Atasi gagal jantung

–         Balloon angioplasty

–         Operasi

PJB TIPE SIANOTIK

TETRALOGI FALLOT ( TF )

TF adalah suatu PJB  yang sianotik ditandai dengan      terjadinya 4 kelainan yaitu : – overriding aorta

– stenosis pulmonal

– ventrikel septal defek

– hipertropi ventrikelkanan

Karena adanya stenosis pulmonal menyebabkan darah sulit melewati arteri pulmonalis akibatnya darah mengalir keventrikiel kiri melalui lubang vsd sehingga darah yang kaya dengan oksigen yang berasal dari atrium kiri keventrikel kiri bercampur dengan darah dari ventrikel kanan .Hal ini mengakibatkan darah yang mengalir keseluruh tubuh bercampur oksigen dan carbondioksida.

Gejala klinik

Gekjala klinik TF adalah sianosis , takipne dan clubbing fingers , penderiti dapat mengalami serangan sianotik secara tiba-tiba .Terlihat anak sinosis , pernafasan cepat , gelisah , Hal ini trejadi akibat berkurangnya darah keparu-paru secara tiba-tiba .Keadaan ini biasanya dicetuskan oleh beberapa kejadian seperti menangis , buang air besar , atau aktivitas yang meningkat. Kejadian ini berlangsung selama 15 sp 30 menit dan biasanya teratasi dengan spontan. Pada keadaan yang berat anak bisa tidak sadar / koma bahkan kematian.

Serangan sianotik biasanya mulai timbul pada usia 6-12 bulan , bahkan dapat lebih awal pada usia 2-4 bulan. Serangan sianotik terjdadi akibat meningkatnya aliran darah kanan kekiri yang tiba-tiba, akibatnya aliran darah keparu berkurang sehingga terjadi hipoksemia berat. Jongkok sering terjadi setelah anak bisa berjalan , setelah beberapa lama anak akan berjongkok untuk beberapa waktu kemudian  berjalan lagi. Pada auskultasi akan terdengar bising sistolik.

Diagnosa :

Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan :

–        gejala klinik seperti diatas

–      pemeriksaan laboratorium jumlah eritrosit dan Hb

meningkat

–     radiologi , pada TF umumnya tidak membesar ,

apeks jantung kecil dan terangkat dan konus

pulmonalis cekung , vaskularisasi paru-paru

menurun. Gambaran ini disebut mirip dengan

bentuk sepatu.

–     EKG

–     Echokardiografi

–     Kateterisasi jantung dan angiokardiografi

Tatalaksana

Pada penderita yang mengalami serangan sianotik maka terapi ditujukan untuk memutus rantai pato fisiologi

serangan tsb dengan cara :

Posisi lutut kedada, dengan posisi ini diharapkan aliran darah keparu-paru bertambah karena peningkatan  afterload aorta akibat penekukan arteri femoralis.

Pemberian obat-obatan seperti morfin dan propanolol.

Tindakan operasi dapat dipertimbangkan bila memungkinkan.

PENYAKIT JANTUNG DIDAPAT

Penyakit jantung didapat yang penting pada anak adalah :

-Demam rematik /penyakit jantung rematik

-Endokarditis infektif

-Gagal jantung

DEMAM REMATIK AKUT ( DRA )& PENYAKIT JANTUNG REMATIK ( PJR )

Salah satu penyakit jantung didapat yang sering terjadi pada anak  adalah demam rematik akut (DRA) dan penyakit jantung rematik ( PJR ).

Diperkirakan angka kejadian PJR di Indonesia 0,3-0,5 % pada anak usia 5-15 tahun.Demam rematik merupakan emepenyebab utama penyakit jantung didapat pada anak usia 5 tahun sampai dewasa dinegara berkembang dengan keadaa sosio ekonomi rendah dan sanitasi lingkungan yang buruk.

DRA merupakan kelainan imunologikyang terjadi akibat infeksi streptokokus beta hemolitikus grup A (SGA ) di faring, biasanya timbul 1-5 minggu ( rata-rata 3 minggu ) setelah infeksi tsb.

Gejelaklinik

Demam rematik merupakan kumpulan selumlah gejala dan tanda klinik. Tanda klinik yang paling sering adalah artritis ; sedangkan yang paling serius adalah karditis dan yang paling aneh adalah chorea , nodus sub kutan dan eritema marginatum. Tanda-tanda ini dapat tejadi bersamaan atau berurutan dan sendiri-sendiri atau dlam kombinasi yang berbeda pada tiap penderita.

Manifestasi mayor:

Karditis ditandai bila didapatkan :

– bising jantung organik

– perikarditis ( friction rub,efusiperikardium)

– pada foto torak terlihat kardiomegali

Artritis, merupakan manifestasi mayor yng paling sering ,

Sendi bengkak ,neyri , merah dan panas .Pada umumnya artritis mengenai sendi-sendi besar lutut ,pergelangan kaki , pergelangan tangan dan siku .Yang khas artritisnya  berpindah-pindah dan asimetris.

Chorea Sydenham, yaitu adanya gerakan-gerakan involunter yang tidak terkoordinasi dan tanpa pengobatan gejala ini akan hilang dalam 1-2 minggu.

Eritema marginatum , merupakan ruam yang khas pada rematik tidak nyeri berdiameter sekitar 2,5 cm dan paling sering ditemukan pada tubuh, tungkai proksimal dan tidak terdapat pada muka.

Nodul subkutan , nodul ini hanya terjadi 5% dari kasus terdapat pada bagian ekstensor sendi terutama ruas jari lutut dan persendian kaki, ukurannya 0,5-2 cm , tidak nyeri

dapat digerakkan secara bebas.

Manifestasi minor

Demam ,selalu ada pada serangan poliartritis rematik , sering terjadi bersemaan dengan adanya karditis namun tidak pada chorea sydenham murni.

Atralgi ,nyeri sendi tanpa disertai tanda-tanda objektif pada sendi dan biasanya terjadi pada sendi-sendi besar, kadang-kadang sakitnya sedemikian hebat sehingga tidak mampu bergerak.

Pemeriksaan laboratorium

1.Uji untuk diagosisinfeksi streptokokus

Biasanya dilakukan dengan biakan apus tenggorok dapat dilakukan pada fase akut akan tetapi pada 2/3 kasus hasilnya sering negatif untuk itu pemeriksaan ASTO perlu dilakukan untuk mengetahui adanya anti bodi terhadap streptokokus.

2.Reaksi pada fase akut

Pemeriksaan lekosit , LED dan pemeriksaan C Reactive Protein ( CRP ) .Ketiga pemeriksaan ini merupakan indikator adanya radang non spesifik pada jaringan.

3.Bukti adanya keterlibatan jantung

a.Gambaran radio logis untk menilai besarnya jantung dan

kemungkinan adanya perikarditis.

b.Pemeriksaan EKG dimana terjadi pemanjangan P-R inter

val pada 28-40% kasus.

c.Pemeriksaan Echokardiografi untuk mengetahui adanya

miokarditis.

Diagnosis

Diagnosa dapat ditegakkan dengan kriteria dari Jones yang telah direvisi tahun 1992 yaitu :

Kriteria mayor : – Karditis

– Poliatritis

– Chorea Sydenham

– Eritema marginatum

– Nodulus subkutan

Kriteria minor :  – klinis : – artralgia

-demam

-laboratorium : – LED naik

-CRP positf

-leukositosis

-P-R interval memanjang

Dasar diagnosa :

Highly probable (sangat mungkin) :

-2 mayor atau 1 mayor + 2 minor

disertai dengan ASTO meningkat dan kultur

positif

Doubtful diagnosis (meragukan)

-2 mayor

-1 mayor+2minor

ASTO tidak menigkat dan kultur negatif

Exception (perkecualian)

Diagnosis DRA dapat ditegakkan bila :

– Chorea saja

– Karditis saja

Tatalaksana

1.Tindakan umum dan tirah baring

Lama dan tingkat tirah baring tergantung dari berat ringan

Penyakit.

2.Pemusnahan / eradikasi streptokok :

– Benzantin penicilin G :

– berat badan kurang dari 30 kg dosis tunggal 600.000

– Berat badan lebih dari 30 kg 1,2 juta Unit

– Jika alergi penisilin , berikan eritromisin 40mg/kg bb

– selama 10 hari

3.Pengobatan nyeri dan anti radang :

– asetosal , diberikan pada karditis ringan sp sedang

Sedangkan prednison pada karditis berat.

Dosis asetosal 100mg/kg bb dibagi 4 dasis

Prednison 2 mg/kg bb dibagi 4 dosis.

Penceganhan

–         Berat badan kurang dari 30 kg diberikan 600.000 unit tiap bulan dan berta badan lebuh dari 30 kg diberikan 1,2 juta unit.

–         Lma pencegahan sampai usia 21-25 tahun

ENDOKARDITIS INFEKTIF ( EI)

Endokarditis infektif merupakan infeksi mikroba pada lapisan endoteljantung yang menyebabkan terdapatnya vegetasi pada katup jantung.

Beberapa faktor predisposisi terjadinya E

–         Adanya PJB atau PJR

–         Setelah tindakan gigi dan mulut , salursn urogenital dan gastro intestinal

–         Pemakaian obat-obat intra vena

–         Pemasangan kateter vena sentral

–         Katup jantung buatan

Gejala klinis

Demam ,nyeri dada dan perut , atralgi ,mialgia, sesak nafas ,

Petike, nodus Osler ,splenomegali dan clubbing fingers .

Pada  auskultasi terdangar adanya murmur.

Diagnosa dibuat berdasarkan kriteri Duke :

Kriteria mayor :

  1. 1. Kultur biakan darah positif

Mikroorganisme yang sering sebagai pentebab EI adalah

Streptokokuk viridan , streptokokus bovis ,stapilokokus,

dan enterokokus

2.Bukti keterlibatan endokardium :

– Adanya kelainan EKG

– Regurgitasi katup yang  baru pada EKG

Kriteria minor :

Adanya faktor predisposisi .

Panas badan

Fenomena vaskuler seperti emboli arteri , infark paru anerisma ,perdarahan intrakranial , perdarahan konyungtiva.

Fenomena  imunologis seperti nodus Osler , glomerulonefritis dan faktor remotoid.

Bukti mikrobiologis misalnya kultur darah positif

Diagnosa :

-2 kriteria mayor atau

-1 kriteria mayor dan 3 kriteria minor atau

-5 kriteria minor

Komplikasi

-Gagal jantung

-Emobolisasi

-Manifestasi neurulogis

-Aneurisma

Terapi

-Antibiotik

-Operasi

-Pengobatan komplikasi yang terjadi.

GAGAL JANTUNG

Gagal jantung merupakan suatu keadaan sindroma klinis dimana jantung tidak mampu memompakan darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh , memberikan venous return yang cukup atau kombinasi kedua hal tsb.

Gagal jantung dibagi menjadi 4 klasifikasi atau grade

–  Grade 1   :  -Tidak ada pembatasn aktivitas fisik artinya

Pada aktivitas biasa tidak menimbulkan kelu-

han kelelahan atau sesak nafas

Grade 2    : -Ada pembatasan ringan dari aktivitas fisik arti-

nya pada aktivitas biasa sudah terjdi kelelahan

dispneu, palpitasi , atau angina.

Grade 3    : -Pembatasn aktivitas fisik , walaupun pada kea-

daan istirahat tidak ada keluhan tapi pada aktivitas biasa sudah timbul gejala-gejala

Grade 4    : -Ketidak mampuan melakukan aktivitas artinya

Gagal jantung sudah terjadi saat istirahat.

Penyebab gagal jantung :

1.PJB

2.Penyakit jantung didapat antara lain

-miokarditis, gangguan metabolik seperti hipkosia berat,

PJR ,kardiomiopati, korpulmonale akut karena obstruksi

Jalan nafas.

Patofisiologi

Terdapat 4 faktor yang dapat menerangkan terjadinya gagal jantung yaitu : – Beban volume ( preload)

– Beban tekanan ( afterload )

– Gangguan fungsi jantung

– Denyut jantung

Gejala kilnik

-Sesak nafas , edema palpebra atau tungkai

-Takikardia , irama galop ,kardiomegali dan gagal tumbuh ,ortopneu , penigkatan tekanan vena jugularis , hepatomegali dan ada ronki pada auskultasi paru.

Pemeriksaan penunjang :

-Foto toraks

-EKG

-Echokardiografi

Tatalaksana :

1.Istirahat

Tujuannya untuk mengurangi beban pada miokard dan memperbaiki fungsi paru , tirah baring sebikinya dengan posisi setengah duduk yaitu dengan mengangkat kepala dan bahu 45 derajat.

2.Pemberian oksigen

Diberikan oksige 30-50% dengan kelembaban tinggi supaya jalan nafas tidak kering dan memudahkan sekresi saluran nafas keluar.

3.Pemberian obat-oabt sedasi ump morfin atau luminal .

4.Pembatasan pemberian cairan.

5.Pemantuan hemodinamik yang ketat.

6.Atasi penyebab dasar.

7.Hindari faktor-faktor pencetus.

8.Ventilasi mekanik pada gagal jantung yang berat yang

disertai dengan gagal nafas.

9.Pemberian obat anti gagal jantung :

– Diuretik ,untuk mengurangi preload

– Vasodilator juga untuk mengurangi preload

–  Digitalis merupakan obat anti gagal jantung yang paling

banyak dipakai yang akan meningkatkan curah jantung.

Kontra indikasi pemberian digitalis :

Kardiomiopati

Adanya blok jantung komplit

Tamponade jantung.

=======

Kepustakaan :

1.Myung K.Park : Pediatric Cardiology for Practioners

Fifth ed.2008.

2.Nelson Textbook of Pediatric 17th ed 2004.

3.Penanganan penyakit jantung pada bayi dan anak

oleh Bambang Madyono dkk 2005.

Kdang

kadang terasa sakit substernsl saat latihan da terja

d

Gejala klinik